Sunday, 27 September 2020

Wilayah Ngawi Utara Bergeliat, Pemkab Proyeksikan Jadi Kawasan Industri Ngawi

post-top-smn
Ketua DPRD Ngawi Dwi Rianto Jatmiko

Ketua DPRD Ngawi Dwi Rianto Jatmiko

Ngawi, SMN Jangan heran bila Anda melihat Kecamatan Pitu sekarang. Kecamatan di utara Bengawan Solo itu kini bersolek menyongsong era industrialisasi yang digagas Pemerintah Kabupaten Ngawi.

Selain akses jalan dari dan ke Pitu semakin mudah dan lancar, infrastruktur lainnya pun semakin memadai. Apalagi dengan banyaknya pra sarana jalan dan jembatan yang dibangun di kawasan ini. “Pemerintah Kabupaten bersama DPRD Ngawi sudah memproyeksi Pitu sebagai Kawasan Industri Ngawi, konsekuensinya memang pra sarana dan infra struktur juga harus ditingkatkan,” ungkap Dwi Rianto Jatmiko, Ketua DPRD Ngawi

Saat ini pembangunan yang menggeliat di utara Bengawan semakin bisa dirasakan masyarakat setempat. Setidaknya ada tiga pembangunan jembatan yang bakal terakses ke Kawasan Pitu dan membentang sampai Karanganyar. Tahun 2015, Pemkab Ngawi sudah menyelesaikan pembangunan jembatan Pramesan-Ngancar senilai total Rp 29 M.

Adanya jembatan ini memungkinan kendaraan besar masuk ke Kecamatan Pitu tanpa harus mengitari Ngawi kota. Selain itu, adanya jembatan Ngancar juga meningkatkan perekonomian warga karena semakin mudah menjual hasil bumi mereka. “Dengan adanya jembatan Ngancar, anak sekolah maupun petani bisa langsung menuju Pitu dari arah jalan Ngawi-Solo,” ungkap Sudarno, Kabid Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas PU Bina Marga Cipta Karya, Kabupaten Ngawi.

Rasmiati, Kepala Desa Pitu

Rasmiati, Kepala Desa Pitu

Akses jalan ke Pitu juga akan segera bertambah dengan adanya pembangunan jembatan Kalang (Kecamatan Pitu) ke arah Watuwalang (Kecamatan Ngawi). Jembatan ini ditargetkan selesai di tahun 2016 dan kini pembangunannya dikebut dengan anggaran sekitar Rp 17 M. Adanya akses jembatan ini membuat angkutan dari dan ke Kalang juga akan lebih mudah karena tersambung langsung dengan jalan raya Ngawi-Solo. “Tahun ini kita akan tambah jembatan yang menghubungkan kawasan utara bengawan dengan kota, yakni pembangunan jembatan Mantingan-Sriwedari,” ungkap Sudarno.

Tahapan pembangunan Sri Wedari ini masih dalam sosialisasi karena perlunya pembebasan lahan. Diprediksi pembebasan lahan bisa diselesaikn tahun ini sehingga bisa langsung dilanjutkan dengan mendirikan bangunan bawah jembatan. “Target pendanaan sekitar Rp 6 M untuk penyelesaian pembebasan lahan dan sebagian bangunan bawah. Lanjutan bangunan bawah dan bangunan atas akan dilanjutkan di tahun 2017,” ujar Sudarno.

Akses jalan yang semakin mudah ke Kecamatan Pitu saat ini juga membawa dampak positif bagi perekonomian warga. Apalagi keberadaan jembatan pasti diikuti dengan kesesuaian status jalan yang memadai. Rasmiati, Kepala Desa Pitu Kecamatan Pitu misalnya, mengakui adanya jembatan Ngancar yang sudah dirampungkan tahun lalu, membuat warganya semakin mudah menjual hasil bumi. “Sebagai peghasil pertanian diantaranya tebu, gabah dan jagung, tentu kami sangat terbantu dengan adanya jembatan Ngancar ini apalagi kalau tahun depan, jembatan kalang juga beroperasi,” ungkap Rasmiati.

Jembatan Ngancar

Jembatan Ngancar

Dampak paling jelas yang dirasakan masyarakat Desa Pitu saat ini juga meningkatnya harga jual tanah sampai melonjak 300 persen. Hal ini tak lain dari tersebarnya kabar bahwa pembangunan indusri akan segera dipusatkan di utara bengawan termasuk Desa Pitu terkena imbasnya. “Dulu per meter persegi paling hanya Rp 50 ribu kini sudah tiga kali bahkan lima kali lipat,” ujarnya. (adv/hms/ari)

post-top-smn

Baca berita terkait