Wednesday, 25 November 2020

Tanaman Terserang Hama, Petani Cengkih Mengalami Kerugian

post-top-smn
Ilustrasi

Ilustrasi

Madiun, SMN – Tanaman cengkih seluas 196 hektare di Kabupaten Madiun, Jawa Timur terserang hama bakteri pembuluh kayu cengkih (BPKC), yang mengakibatkan penurunan produksi. AKibatnya kejadian ini membuat para petani cengkih merugi.

Kepala Seksi Rehabilitasi, Diversifikasi dan Insfrastruktur, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Madiun, Suwono mengatakan, total luas lahan perkebunan cengkih di Kabupaten Madiun mencapai 1.411 hektare yang terdapat di Kecamatan Dagangan, Dolopo dan Kare.

“Dari jumlah tersebut, sebanyak 196 hektare lahan diantaranya terserang BPKC. Serangan paling banyak terjadi di Kecamatan Dagangan yang mencapai 151 hektare,” ujar Suwono, Rabu (4/5/2016).

Suwono mengatakan, hama BPKC menyerang pucuk pohon terlebih dahulu, lalu membuat seluruh daun menguning dan gugur. Kontur tanah yang miring juga memicu percepatan penyebaran bakteri mematikan ini. Dengan tingkat serangan mulai skala ringan hingga berat.

Pohon yang terserang BPKC akan mati secara perlahan dalam kurun waktu satu hingga dua tahun. Pohon yang sudah terserang tidak akan bisa kembali sehat. Parahnya, tanah bekas pohon yang terserang BPKC harus menunggu tiga hingga lima tahun untuk siap ditanam kembali.

“Namun, kenyataannya, tanah biasanya belum netral sepenuhnya, tetapi dipaksakan untuk ditanami cengkih lagi oleh petani. Alhasil, terkena hama lagi. Hal itu karena cengkih merupakan sumber utama pendapatan petani di daerah lereng Gunung Wilis,” ujar dia.

Guna membantu petani membasmi BPKC, pihaknya memberikan bantuan penyemprotan serta infus antibiotik. Namun, hal itu hanya memperlambat penyebaran bakteri yang telah menyerang. Untuk menghentikan penyebaran hama tersebut, seharusnya pohon harus ditebang lalu dibakar. Namun, kebanyakan petani enggan melakukannya.

Salah seorang petani cengkih di Desa Mendak, Dagangan, Miyanto mengaku, mengalami kerugian cukup besar akibat tanaman cengkihnya diserang bakteri tersebut. Sewaktu masih normal, sekira setengah hektare kebun cengkih miliknya mampu menghasilkan panen hingga Rp150 juta.

“Tetapi sejak terserang bakteri mematikan itu, kini keuntungan panen turun drastis, hanya tinggal Rp5 juta saja,” tuturnya.

Kerugian itu karena serangan hama membuat produksi bunga cengkih turun drastis. Jika di waktu normal, setiap batang pohon mampu memproduksi bunga cengkih hingga sekira 60 kilogram basah dan bisa diolah menjadi 20 kilogram kering.

“Tetapi setelah terserang bakteri, bunga cengkih basah produksinya tinggal 20 kilogram dan ketika diolah hanya menjadi dua kilogram kering,” kata Miyanto.

post-top-smn

Baca berita terkait