Tuesday, 27 October 2020

Tahun 2016, Neraca Perdagangan Jatim Surplus Rp 75,26 T

post-top-smn

neraca jatim 2016 surplus Surabaya, SMN – Neraca perdagangan Jawa Timur  pada tahun 2016 mengalami surplus Rp 75,26   triliun. Ini merupakan akumulasi dari penurunan defisit perdagangan luar negeri sebesar Rp 25,30 triliun namun ditopang oleh surplus perdagangan  dalam negeri sebesar Rp 100,56 triliun.

Ini dikatakan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sukardi, melalui Asisten Administrasi Umum Provinsi Jawa Timur, Abdul Hamid, saat membukan Rapat Koordinasi Isu   Strategis Perkembangan Makro Ekonomi Jawa Timur   dengan tema “Government Spending Dalam   Menstimulasi Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur” di Hotel Wyndham, Surabaya, Selasa (21/3).

Dikatakannya, hal ini menunjukkan bahwa pangsa pasar perdagangan dalam negeri masih menjadi peluang yang sangat menjanjikan bagi produk unggulan Jawa Timur.

Pada kesempatan ini, Sekda juga menyampaikan terimakasih dan apresiasi dari pemerintah Provinsi Jawa Timur atas kinerja para stakeholder dalam menjaga stabilitas makro ekonomi Jawa Timur tahun 2016. Hal ini dikarenakan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2016 mampu tumbuh signifikan 5,55%, lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,02%.

Pertumbuhan signifikan tersebut juga didukung dengan kinerja pengendalian inflasi pada  tahun 2016 yang berhasil menjaga tingkat inflasi  2,74 %, jauh di bawah target inflasi pemerintah 4 + 1% (empat plus minus satu prosen).  Hal ini   berbeda dengan capaian inflasi sampai dengan   bulan Februari 2017 sebesar 1,78%.

“Semoga kita tidak cepat merasa puas atas kinerja kita selama 2016 dan senantiasa meningkatkan kinerja kita menjadi semakin baik, karena tantangan yang berat sudah menanti,” tutur Sekda.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas  Dasar Harga Berlaku Provinsi Jawa Timur tahun 2016 sebesar Rp 1.855,04 triliun, memberikan   kontribusi sebesar  14,95% terhadap Produk   Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Ini merupakan   kontribusi terbesar kedua setelah Provinsi DKI   Jakarta. Besaran  kontribusi PDRB yang semakin   meningkat terhadap PDB tersebut menunjukkan bahwa   Jawa Timur merupakan backbone pertumbuhan ekonomi Nasional.

Struktur PDRB Jawa Timur itu bertumpu pada tiga sektor lapangan usaha utama, yaitu Sektor lapangan usaha Industri pengolahan, yang menjadi sektor yang paling dominan dengan kontribusi sebesar 28,92%, tumbuh 4,51% dan  mampu menyerap 14,47% tenaga kerja Jawa Timur.

Berikutnya, sektor lapangan usaha perdagangan dengan kontribusi sebesar 18,00%, tumbuh 5,81% mampu menyerap 21,01% tenaga kerja. Juga sektor lapangan usaha pertanian dengan kontribusi 13,31% dengan pertumbuhan 2,35% mampu menyerap 36,49% tenaga kerja Jawa Timur.

Selain itu yang menarik adalah sektor lapangan usaha pertambangan pada tahun 2016 mengalami pertumbuhan 14,18%, ini merupakan pertumbuhan tertinggi. Hal ini karena peningkatan lifting  minyak Bojonegoro dari 30,8 juta barel menjadi 67,6 juta barel pada tahun 2016.

Penopang Ekonomi

Dari  Struktur perekonomian Jawa Timur tahun 2016 tersebut, memperlihatkan bahwa sektor basis (perdagangan, dll,red) masih menjadi penopang laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.    Namun yang perlu menjadi perhatian adalah sektor lapangan usaha pertanian, mengingat 36,49% jumlah tenaga kerja di Jawa Timur berada di sektor ini namun hanya menikmati 13,31% output (PDRB) Jawa Timur.

Sementara kinerja Investasi Jawa Timur pada tahun 2016, total izin prinsip investasi di Jawa Timur mencapai Rp 61,43 triliun. Sedangkan total realisasi investasi di Jawa Timur mencapai Rp 155,04 triliun, dimana realisasi investasi di Jawa Timur ini dominan pada PMDN Non Fasilitasi,  yakni sebesar Rp 82,14 triliun atau 52,97% dari   total realisasi investasi Jawa Timur.

Dengan rincian bidang usaha perdagangan Rp 47,56  triliun, perindustrian Rp 8,81 triliun, perumahan dan ruko Rp 5,27 triliun, jasa konstruksi Rp 5,03 triliun perhotelan Rp 2,87 triliun dan bidang usaha lainnya Rp 12,60 Triliun. (ryo/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait