Saturday, 24 October 2020

Sinkronisasi Penanganan Dampak Banjir Sungai Sadar

post-top-smn
Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa saat meninjau kondisi salahsatu desa di Kecamatan Mojoanyar pasca jebolnya tanggul Sungai Sadar

Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa saat meninjau kondisi salahsatu desa di Kecamatan Mojoanyar pasca jebolnya tanggul Sungai Sadar

Kab. Mojokerto, SMN – Pemerintah Kabupaten Mojokerto, melakukan langkah cepat terkait penanganan banjir yang melanda beberapa wilayah. Dari hasil laporan rapat sinkronisasi penanganan dampak banjir Sungai Sadar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, pelaksanaan perbaikan tanggul bakal dilaksanakan oleh Perum Jasa Tirta I (PJT I) bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) mulai 1 Maret 2017 dengan catatan cuaca mendukung, serta normalisasi secara permanen dan pembuatan tanggul mulai bulan Juni 2017.

Rapat tersebut merupakan hasil evaluasi terkait penanganan pasca putusnya tanggul di beberapa titik di Sungai Sadar antara lain Kwedenkembar, Salen, Kedunggempol dan Gembongan.

Seperti diketahui, tingginya curah hujan di Kabupaten Mojokerto sejak Senin malam (20/2) menyebabkan jebolnya tanggul Sungai Sadar sehingga memaksa warga 8 desa di Kecamatan Mojoanyar terpaksa diungsikan karena banjir.

Ditambah lagi kondisi existing pada bagian atas wilayah Kabupaten Mojokerto (Gunung Penanggungan, Arjuno, Welirang dan Anjasmoro yang bermuara di Sungai Porong dan Sungai Brantas) mulai gundul. Ini dapat mengakibatkan buruknya daya serap dan memicu banjir. Hal ini seperti yang pernah diungkapkan Bupati Mojokerto, Mustofa Kamal Pasa, dalam acara Lokakarya Sungai beberapa waktu lalu.

“Lahan atas di Kabupaten Mojokerto yang gundul dapat mengakibatkan debit run off atau air limpasan Sungai Brangkal dan Sungai Sadar menjadi besar. Efek negatifnya dapat memicu banjir yang memanjang pada 5 kecamatan yakni Mojoanyar, Bangsal, Mojosari, Pungging dan Ngoro. Kabupaten Mojokerto berusaha untuk meminimalisir hal tersebut dengan konservasi lahan-lahan kritis, membangun sumur resapan di daerah atas dan normalisasi saluran irigasi, melalui pendanaan APBD dan CSR Kabupaten Mojokerto,” terangnya.

Mengenai upaya normalisasi demi upaya mencegah banjir, setiap tahunnya Kabupaten Mojokerto telah menyampaikan usulan tersebut. Usulan tersebut telah direspon dengan adanya kegiatan normalisasi Sungai Sadar yang akan dilakukan pada tahun 2017 dan tahun 2018 dengan anggaran sebesar Rp 100 M melalui APBN. Bupati juga menambahkan bahwa pembangunan bendungan sejatinya dapat mengatasi permasalahan akibat daya rusak tersebut.

“Membangun Bendungan Wiyu di Desa Wiyu, Kecamatan Pacet dan Bendungan Lebak Sumengko di Desa Lebakjabung, kecamatan Jatirejo, sebenarnya bisa digunakan sebagai solusi. Bendungan bermanfaat untuk konservasi air di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, juga untuk menaikkan muka air tanah. Kita sudah usulkan itu melalui E-Musrenbang sehingga dapat diusulkan lewat APBN,” urainya.

Ancaman banjir memang tidak main-main. Kabupaten Mojokerto dilewati oleh Sungai Lamong yang merupakan ordo tiga dari Sungai Bengawan Solo, yang juga membawa daya rusak pada tiga kabupaten yakni Lamongan, Gresik dan Mojokerto. Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, yang berada di sepanjang perbatasan Kabupaten Mojokerto-Kabupaten Gresik (sebagai daerah hilir), hampir tiap tahun terancam banjir. Berangkat dari sini, Pemerintah Kabupaten Mojokerto telah mengusulkan kegiatan penguatan Sungai Lamong dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.

“Kita juga usulkan kegiatan perkuatan Sungai Lamong ke BBWS Bengawan Solo melalui E-Musrenbang. Respon belum kita terima, tapi kita berharap yang terbaik,” lengkap bupati.

Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan puncak musim hujan di Jawa Timur pada bulan Maret 2017, diperkirakan masih terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang dengan kecepatan mencapai lebih dari 45 knots karena pertumbuhan awan Cumulonimbus. Potensi gangguan cuaca, seperti pusaran angin kencang dan ombak tinggi di sekitar perairan Jawa Timur masih akan mewarnai. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan dengan baik.(hms/adv/kan)

post-top-smn

Baca berita terkait