Thursday, 29 October 2020

Sinergi dengan Pusat Dalam Pembangunan PLTA

post-top-smn

6-foto-utama Jakarta, SMN – Persoalan kelistrikan di Kalimantan Utara (Kaltara), terus mendapatkan perhatian Gubernur Kaltara, Dr H Irianto Lambrie. Jumat (3/3), Irianto kembali menemui Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno dan Dirut PT PLN (Persero), Sofyan Basyir. Irianto berharap, pemerintah pusat dan Pemprov Kaltara dapat bersinergi dalam pembangunan di sektor kelistrikan khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Seperti diketahui, kekayaan alam,  sungai besar yang banyak di Kaltara, salah satunya Sungai Kayan berpotensi besar sebagai sumber energi listrik untuk masyarakat Kaltara. Bahkan jika terwujud, diyakini menjadi salah satu sumber energi listrik terbesar. Irianto mengatakan, pembangunan PLTA Kayan tahap pertama di willayah Peso, Kabupaten Bulungan diperkirakan membutuhkan waktu 4-5 tahun.

“Pembangunan fisik konstruksi insya Allah bisa dimulai tahun ini. Desain bendungan sudah ada. Biayanya lumayan besar. Termasuk perencanaan, studi kelayakan dan lainnya menghabiskan kurang lebih USD 75.000. Sekarang tinggal dilanjutkan dengan pembangunan fisiknya,” kata Irianto.

Selain pembangunan bendungan yang pada tahap pertama diperkirakan menghasilkan 900 megawatt (MW), juga akan dilakukan relokasi masyarakat yang berada di sekitar lokasi bendungan. Ada ratusan warga di dua desa yang akan dipindahkan ke lokasi eks HPH Inhutani.

Dikatakan Irianto, untuk lokasi yang baru tinggal menunggu rekomendasi dari bupati dan gubernur, kemudian diajukan ke kementrian untuk pinjam pakai kawasan. “Sebenarnya tidak masalah, lahan itu sudah bekas HPH, tapi tetap kita ajukan surat ke kementerian,” ujarnya.

Masyarakat, kata Irianto, sudah tidak masalah. Semua bersedia untuk direlokasi. “Selain dibangunkan tempat tinggal, di lokasi yang baru nanti oleh perusahaan akan dibangun sarana infrastruktur lainnya,” kata Irianto.

Gubernur pun berharap Pemkab Bulungan bergerak cepat, dan tidak menunggu untuk penyelesaian relokasi ini. “Tapi saya yakin akan cepat, soalnya bupati juga sangat mendukung program ini,” imbuhnya.

Irianto juga menerangkan ada revisi terkait pengembangan PLTA Sungai Kayan ini. Kapasitas listrik yang dihasilkan sebelumnya sekitar 6.080 MW, setelah ada revisi dari PT Kayan Hydro Energi (KHE) menjadi 9.000 MW.

“Dari rencana lima bendungan juga kemungkinan jadi tiga bendungan. Untuk tahap pertama, Bendungan Kayan I akan menghasilkan listrik sebesar 900 MW. Itu cukup besar untuk ukuran Indonesia. Selain itu, pembangunan proyek ini di desain juga oleh desainer yang membangun bendungan terbesar di dunia yang ada di China, Three Gorges Dam yang membandung sungai Yangtse,” tuturnya.

Dengan kapasitas sebesar itu, PLTA Sungai Kayan ini bakal menjadi pembangkit listrik terbesar di Indonesia. Irianto juga mengatakan, PLTA ini bakal menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dan terbesar kedua di Asia setelah Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Diharapkan setelah PLTA Sungai Kayan ini dibangun bisa memenuhi kebutuhan listrik di Kalimantan Utara. Bahkan, hingga ke seluruh provinsi di Pulau Kalimantan. Tak hanya itu, jika masih ada kelebihan listrik, bisa dijual ke negara tetangga, Malaysia. (hms/al/adv)

post-top-smn

Baca berita terkait