Wednesday, 21 October 2020

RSUD Dr Soetomo Disiapkan Sebagai RS Yang Miliki Data Valid Infeksi MRSA

post-top-smn

RSUD Dr Soetomo Surabaya, SMN – Prevalensi infeksi Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) di lingkungan rumah sakit diperkirakan melonjak signifikan. Pakar ilmu mikrobiologi Jawa Timur, Prof Kuntaman berencana menyiapkan RSUD Dr Soetomo sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang memiliki data valid mengenai jumlah MRSA.

“Kalau di RSUD Dr Soetomo sudah punya data yang valid, maka selanjutnya dapat diteliti lebih lanjut bagaimana mekanisme munculnya MRSA hingga dapat menginfeksi lalu menyebar. Setelah itu diketahui, selanjutnya dapat diteliti lebih dalam bagaimana karakteristik biomolekulernya,” jelas Kuntaman, Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya, Rabu (8/2).

Demi memutus mata rantai kejadian penularan infeksi MRSA, ia bersama tim ahli Mikrobiologi FK Unair bekerjasama dengan Erasmus University Medical Center melakukan serangkaian penelitian berkelanjutan selama 2004 hingga 2006. Melalui penelitian tersebut, tim Mikrobiologi FK Unair berhasil menyusun sebuah guideline.

Ia menceritakan, pada tahun pertama penelitian, tim Mikrobiologi berhasil menemukan parameter untuk melihat seberapa besar permasalahan MRSA di Indonesia. Sementara di tahun kedua, diperoleh seberapa besar penyebaran MRSA di rumah sakit. Puncaknya di tahun 2016, ia beserta tim menyusun guideline untuk mengendalikan resistensi antimikroba.

Persoalan MRSA, tambahnya, secara umum memang kurang diminati oleh sebagian besar peneliti. Namun ia sejak awal bertekad untuk mendalami permasalahan tersebut. Sejak 2001, ia berusaha mengawali penelitiannya. “Sebenarnya ada banyak jenis penyakit yang dapat diteliti. Namun saya memilih fokus mendalami super bakteri yang sulit ditaklukkan ini karena saya anggap MRSA adalah permasalahan penting,” ujarnya.

Menurutnya, jika ini dibiarkan berlarut-larut, kondisinya justru dapat merugikan pelayanan kesehatan, dalam hal ini BPJS. Karena yang ditangani adalah pasien dengan komplikasi penyakit yang semakin berat akibat terinfeksi MRSA, sehingga biaya terapinya membutuhkan dana yang lebih besar lagi. Ke depan, BPJS harus mengarah pada program pencegahan.

“Dengan menerapkan metode pencegahan, sebenarnya akan ada banyak pihak yang diuntungkan. Dokter lebih mudah memberi terapi, BPJS diuntungkan, demikian juga rumah sakitnya. Sehingga tidak perlu banyak membelanjakan obat antibiotik,” ujarnya. (luk/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait