Wednesday, 28 October 2020

Realita Kehidupan, Kisah Memilukan “Mbah Paeran”

post-top-smn
Kondisi Mbah Paeran saat ini

Kondisi Mbah Paeran saat ini

(Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah sakit keluarga meninggalkan)

Pacitan,  SMN – Sepuluh tahun terakhir ini Pacitan merupakan daerah yang sangat getol bersolek sehingga Kabupaten Pacitan yang dulu tidak dikenal dunia luar sekarang ini sangat banyak daerah yang sangat terpesona dan ingin membuktikan kecantikan wisata Pacitan. Namun siapa yang menyangka di balik kemolekan Kabupaten Pacitan terdapat sebuah cerita yang miris ketika kita melihatnya. Alkisah Seorang kakek yang hidup seorang diri tanpa ada sanak saudara yang peduli terhadapnya. Mbah paeran (70) warga Rt/Rw 003/001 dusun Krajan wetan Desa Kalak Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan. Mbah Paeran  yang dulunya hidup rukun bersama anak dan istrinya tiba tiba mendapat musibah,Mbah Paeran adalah seorang buruh panjat pohon kelapa untuk deres (Mengambil air mancung atau bunga kelapa yang digunakan sebagai bahan pembuatan gula merah) pada suatu ketika beliaunya jatuh dan berakibat fatal yaitu kaki kirinya luka hingga bertahun tahun yang akhirnya anak istrinya meninggalkan Mbah Paeran hidup seorang diri .

”Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Mbah Paeran, namun kami sebagai pemerintah desa semua ada batasan karena juga berbentur dengan aturan,jadi saya sebagai Kepala desa juga merasa prihatin tapi bagaimana  lagi, kami sudah usulkan untuk mengajukan ke pemerintah pusat melalui pemerintah di atas kami namun juga belum terealisasi, sebenarnya dulu juga sudah pernah mendapat bantuan RTLH (rumah tidak layak huni) namun seiringnya waktu rumah tersebut dibongkar  oleh anaknya dengan alasan akan dibangun yang lebih bagus namun kenyataanya sampai saat ini rumah tersebut belum jadi. untuk itu kami mewakili warga mengucapkan banyak terikasih kepada teman teman dari JIWANTARA (jiwane wong senusantara) yang telah sudi membantu warga kami,” kata Agus Suseno Amd kepala Desa Kalak kepada awak media SMN yang ikut dalam acara bakti sosial waktu itu. Kini Mbah Paeran tinggal di rumah petak yang kalau kita mengatakan tidak layak huni. di rumahnya yang amat sangat miris  dan memprihatinkan, sejak 40th silam dengan kondisi yang serba kekurangan dan mengalami sakit kaki akibat jatuh. Dengan kondisi yang serba kekurangan mbah paeran tidak pernah menghiraukan rasa sakit yang di deritanya akibat kurangnya biaya buat berobat, jangankan untuk berobat bahkan untuk makan sehari hari pun mbah paeran mengharapkan belas asih (uluran tangan) dari tentangga di sekitar rumahnya yang peduli terhadapnya. Dan akibat rasa sakit yang di deritanya tidak terurus lambat laun kakinya sampai membusuk. Sedangkan anak  Mbah Paeran tidak mau mengurus dia lagi bahkan istrinya pun ikut pergi meninggalkan Mbah Paeran yang ikut cucunya di luar kota. padahal Mbah Paeran amat sangat membutuhkan sanak keluarga untuk mengurus dirinya yang sedang sakit.

Anggota Jiwantara ketika menyerahkan bantuan kepada Mbah Paeran

Anggota Jiwantara ketika menyerahkan bantuan kepada Mbah Paeran

Lain Mbah Paeran lain pula cerita P.Mujianto warga  Desa Kalak Pula yang bertempat tinggal tidak jauh dari kediaman Mbah Paeran, P.Mujianto ini juga sebagai buruh pemanjat pohon kelapa seperti profesi yang dilakukan Mbah Paeran yang sama sama mengalami tragedi jatuh dafri pohon kelapa yang berakibat fatal, betapa tidak? Ketika P.Mujianto mengalami keterbatasan dalam pencarian ekonomi untuk keluarga  dengan sengaja sang istri minta cerai. Singkat cerita setelah perceraian itu P.Mujianto hidup sebatang kara di dalam rumah petak hasil pemugaran yang dilakukan oleh Pemerintah Desa kalak yang berukuran kurang lebih 3 kali 4m dengan segala keterbatasan vasilitas, “pusing mas……desah Agus Suseno sang kepala desa, kami sudah berkali kali mengusulkan  ke pemerintahan yang lebih atas namun bantuan itu juga belum turun, jadi kami baik secara pribadi maupun atas nama pemerintah desa sudah berbuat untuk membantu semampu kami tapi juga menyadari bahwa semua itu jauh dari sempurna,” imbuh Agus kepada jiwantara.

Kehidupan P.Mujianto yang sekarang sangat memprihatinkan karena jangankan untuk berjalan untuk berdiri saja tidak mampu, jadi sangatlah membutuhkan uluran tangan dan perhatian dari berbagai pihak untuk meringankan beban hidup yang beliau jalani. Perlu diketahui pula bahwasanya untuk menopang hidup kedua warga tersebut hanya mengharapkan belas kasihan dari warga sekitar lingkungan dimana keduanya tinggal.Untuk itu teman teman dari jiwantara dan gabungan dari beberapa media melakukan penggalangan dana dari pribadi untuk dibantuakan kepada beliau beliau sebagai bentuk kepedulian sesama manusia.Dan semoga ini bukan akhir dari sebuah perjalanan melainkan awal dari sebuah harapan. Ikuti kisah kisah selanjutnya.(gan/tim)

post-top-smn

Baca berita terkait