Sunday, 25 October 2020

Program Ternak Sapi Perah Disorot

post-top-smn
Peternak Sapi Perah dan sapi perah yang masih tersisa.

Peternak Sapi Perah dan sapi perah yang masih tersisa.

(Agunan Rp 6 Milyar, Peternak Sapi Bangkrut)

Banyuwangi, SMN – Awal program sapi perah yang diluncurkan oleh Bupati Banyuwangi, H Abdullah Azwar Anas bersama dengan Bank Jatim sebagai mitra dengan menjanjikan kesuksesan dan kesejahteraan, akhirnya kandas. Kini, mendapatkan sorotan tajam, apalagi peternak sapi perah yang tergabung di 4 (empat) kelompok dengan besarnya agunan senilai kuranglebih Rp 6 Milyar tak terbayarkan karena peternak sapi perah mengalami kebangkrutan secara kolektif.

Seperti yang telah diungkapkan Ketua Kelompok Sapi Perah Andini Mulyo, Murdoko warga Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Licin mengatakan, program sapi perah yang menjadi embrio dan unggulan Desa Tamansari dan sekitarnya ternyata hanya sebatas isapan jempol.

Menurutnya, program yang digembar – gemborkan Bupati Banyuwangi tersebut dinilai terlalu muluk – muluk. Karena, dalam merealisasikan program sapi perah tersebut tidak melalui tahapan uji coba terlebih dahulu. Sehingga, kondisi suhu dan cuaca yang relatif dingin sangat mempengaruhi perkembangbiakan ternak sapi perah.

“Semua peternak sapi perah yang ada di 4 (empat) kelompok rata – rata mengalami persoalan yang sama. Selama beroperasional bila dilihat dari hasil setiap produksi pada kenyataannya tidak sebanding dengan pendapatan yang direncanakan sebelumnya. Sehingga, biaya dari penghasilan malahan lebih banyak pengeluarannya. Belum lagi setiap bulan harus memenuhi kewajiban mengangsur di Bank jatim sesuai dengan besarnya agunan setiap orangnya,” Bebernya.

Begitupula, disaat awal pencairan pinjaman untuk membeli sapi perah semua anggota peternak tidak pernah diberi uang tunai sebagai pengajuan pinjaman masing – masing peternak. Dan, peternak yang pinjam di bank Jatim secara langsung diberi sapi perah sesuai dengan pengajuan yang jumlahnya sangat variatif. Selain itu, bila dievaluasi dari perjalanan program sapi perah terindikasi adanya ketidak profesionalan dalam melaksanakan program.

“Sapi perah yang diberikan ke sejumlah peternak bisa dikatakan tidak produktif. Hasil perahan setiap harinya tidak maksimal, rata – rata 2 sampai 7 hingga 10 liter. Dari hasil yang tidak sesuai realita dan harapan, kini sertifikat yang menadi agunan di Bank jatim terancam dilelang karena semua peternak mengalami kebangkrutan. Beli pakan ternak sapi saja tidak mampu sehingga sapi yang ada dijual untuk menutupi biaya produksi serta menukar sapi yang tidak produktif dengan yang lebih produktif hasil perahannya,” Ungkapnya.

Hingga saat ini, kondisi kantor yang selama ini dijadikan tempat fragmentasi mangkrak dan tidak terurus. Begitupula, keberadaan truk tangki pengangkut susu sapi perah dibiarkan saja tanpa ada perawatan. Sedangkan 1 (satu) unit tangki menurut pengakuan sejumlah peternak sapi sudah laku terjual oleh pengurus koperasi.

Menyikapi terkait adanya kebangkrutan tersebut, kini sejumlah peternak yang memiliki agunan di Bank Jatim Cabang Banyuwangi telah berupaya untuk memberikan pernyataan resmi secara tertulis karena dalam pengelolaan ternak sapi tersebut mengalami pailit.

“Besar harapan kami agar pihak perbankan melakukan upaya adanya peninjauan kembali terkait adanya semua piutang dan penghapusan bunga dan denda yang dialami peternak serta dalam melakukan penyelesaian piutang tidak lagi terkumpul kepada Kelompok masing – masing,” Kata Supakma.(Edhi Prasetyo)

post-top-smn

Baca berita terkait