Saturday, 26 September 2020

Produksi Surplus, Kementan Pastikan Tak Ada Impor Jagung

post-top-smn
Ilustrasi

Ilustrasi

Jatim, SMN – Upaya pemerintah menggenjot produksi jagung kini mulai berbuah manis. Pasalnya, berdasarkan perhitungan kenaikan produksi dari luas tanam baru di tahun ini produksi jagung mengalami surplus, sehingga Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin tak ada lagi impor jagung masuk ke Indonesia.

“Untuk produksi ada tambahan tanam jagung seluas 1,5 juta hektar dari dana APBN 2015. Jika satu hektar bisa produksi empat ton, maka ada tambahan 6 juta ton tahun ini,” kata, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, Senin (29/8).

Bahkan, tahun ini Kementan kembali menambah luas tanam baru di bulan Agustus-Oktober sebanyak 724.000 hektare. Ditambah pula pengadaan bantuan benih dan pupuk dengan dana APBN-P 2016. Sehingga, tambahan luas tanam bisa memperkuat produksi dan surplus jagung. “Sudah nggak ada lagi cerita impor jagung. Sudah selesai itu impor, dengan angka itu kita target minimum sudah 21,5 juta ton. Bahkan bisa sampai angka kasarnya 24 juta ton,” ungkap Hasil.

Dari data Kementan, produksi jagung 2016 dipastikan mencukupi kebutuhan industri pakan 750.000 ton per bulan dan kebutuhan jagung nasional 1,55 juta ton per bulan. Kendati demikian, khusus untuk jagung kebutuhan industri pakan masih mengalami kesulitan distribusi jagung petani sampai ke pabrik pakan.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman juga sempat memastikan tidak akan ada lagi impor jagung pada tahun ini dan tahun depan. Untuk itu, permohonan izin impor jagung yang disampaikan Perum Bulog setelah melakukan perundingan dengan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) diyakini tidak akan berlanjut.

Ia memastikan sampai bulan Desember 2016 ini, pemerintah tidak akan melakukan impor jagung, karena produksi jagung terus meningkat. Kondisi ini terlihat dari penurunan impor hingga 60 persen dari tahun lalu. Tahun ini jagung impor yang masuk baru 600.000 ton. “Sikap kami jelas, kalau ada produksi dalam negeri, maka tidak ada lagi ceritanya kita impor beras,” ujar Amran akhir pekan lalu.

Ia juga menjanjikan semua produksi jagung lokal akan diserap oleh Bulog bila harganya jatuh di bawah Rp 3.150 per kilogram (kg) dengan kadar air 15 persen. Ia mengingatkan batas atas harga jagung di tingkat petani sebesar Rp 4.000 per kg. “Batas atas itu perlu diterapkan agar industri juga mendapatkan jagung dengan harga yang wajar sehingga petani dan industri sama-sama untung,” tukasnya. (afr/kom_jtm)

post-top-smn

Baca berita terkait