Tuesday, 27 October 2020

Petakan Wilayah rawan Longsor, Pemprov Undang Ahli Geologi ITS dan UGM

post-top-smn
Ilustrasi

Ilustrasi

Surabaya, SMN – Pemerintrah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mengambil langkah cepat pasca longsor susulan yang kembali menerjang Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo Minggu (9/4) siang. Dalam waktu dekat, Pemprov akan memanggil ahli geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), guna memetakan wilayah rawan longsor, untuk merelokasi pemukiman penduduk.

“Longsor sulit ditahan, tugas kita sekarang bagaimana bisa menyelamatkan menduduk dari bencana, sehingga tidak terjadi korban jiwa lagi,” tutur Gubernur Jatim, Soekarwo (Pakde Karwo) usai Inspeksi Mendadak (Sidak) Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2017 di Surabaya Senin (10/4).

Pakde ingin nantinya, seluruh kawasan rawan bencana di Jatim bisa dipetakan sehingga penduduk di sekitar lokasi, bisa direlokasi ke tempat yang aman. “Tanah untuk relokasi dari pemerintah daerah, Pemprov yang membangun rumahnya, tapi Ini masih pendapat gubernur, namun saya yakin kalau untuk kepentingan rakyat semua pasti mendukung,” harap Pakde.

Lebih lanjut dikatakannya, kawasan rawan longsor bukan hanya terjadi di Gunung Wilis, tapi juga Gunung Iijen, Arjuno, Argopuro, Welirang, Kelut, dan Kawi. Wilayah itu tanahnya mengandung humus juga punya potensi bencana yang sama, akibat area tanaman tegakan (sekumpulan pohon-pohon yang mempunyai umur, komposisi, dan bentuk yang sama) diganti tanaman perkebunan seperti jahe dan kentang.

Penduduk Jatim yang berada di sekitar gunung berapi, lanjut Pakde, kebanyakan ingin mengolah lahan dengan tanamanam yang bisa dipanen tiga bulan sekali. Ini yang membuat area tanaman tegakan berkurang sehingga rawan longsor. “Solusinya setiap 10 meter area lereng gunung yang dimanfaatkan warga untuk pertanian, harus ada tanaman tegakan yang dapat mengikat tanah karena punya akar tunjang kuat,” katanya.

Dicontohkan Pakde, seperti khasus longsor Ponorogo dimana area perhutani yang merupakan kawasan tanaman tegakan tidak longsor, tetapi area yang ditanami jahe oleh petani itu yang longsor.

Meski di wilayah Jatim merupakan kawasan rawan bencana karena punya banyak gunung berapi yang masih aktif, tidak lantas membuat gubernur yang memimpin selama dua periode ini khawatir. Justru keberdaan gunung-gunung ini membuat Jatim kaya akan meneral dan tambang.

Seperti Banyuwangi dan Jember yang punya kandungan emas sangat besar. Sedangkan Lumajang punya pasir besi. “Kami sekarang sedang meneliti apakah ada kandungan uranium atau tidak,” ungkapnya.

Sementara wilayah Barat Jatim seperti Tulungagung menurut Pakde punya kekayaan batu alam marmer, emas di Trenggalek, dan Pacitan punya kandungan bentonit. “Pasir besi, emas, dan tembaga itu dekat dengan kawasan gempa,” imbuh Pakde.

Sedangkan wilayah tengah seperti Gresik, Lamongan, Bojonegoro sangat kuat di sektor pertanian. Karena itulah saat ini Jatim mampu menyanggah pangan Indonesia dimana kelebihan beras Jatim sampai saat ini mencapai 5,23 juta ton. ”Kelebihan pangan Jatim bisa untuk menghidupi 49 juta penduduk di luar Jatim, itu belum termasuk jagung dan kedelai Jatim yang juga sangat produktif,” tuturnya. (hjr/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait