Sunday, 25 October 2020

Pertunjukan drama kolosal pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air), Penonton Antusias

post-top-smn
Acara drama kolosal pemberontakan PETA di Blitar ini berlangsung

Para penonton antusias melihat drama kolosal pemberontakan PETA di Blitar

Blitar, SMN – Seperti tahun-tahun sebelumnya, peristiwa pemberontakan PETA ini diperingati dengan mengadakan Pentas Drama Kolosal Pemberontakan PETA. Acara drama kolosal pemberontakan PETA di Blitar ini berlangsung pada hari Selasa, 14 Februari 2017. Dimulai pukul 19.00 di Monumen Peta depan TMP Kota Blitar

Drama yang diikuti ratusan pelajar dan seniman ini mengisahkan perjuangan heroik tentara muda Peta dibawah pimpinan Soedanco Soeprijadi melawan kekejaman penjajah Jepang. Meski gagal meraih kemenangan, usaha tentara Peta ini patut menjadi awal perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Drama kolosal ini diawali dengan kedatangan tentara Jepang di Indonesia untuk mendapat simpati dari rakyat. Para pemuda Indonesia direkrut oleh tentara Negeri Matahari Terbit itu untuk dijadikan tentara militer Jepang. Namun, kedatangan tentara Jepang ini bukan bertujuan memakmurkan rakyat Indonesia, tetapi justru malah menyengsarakan bangsa Indonesia.

Melihat kondisi itu, Soeprijadi yang beranjak dewasa  bergabung dengan tentara Peta. Dia tak kuasa melihat penderitaan bangsanya. Dia pun  mencetuskan rencana pemberontakan di Blitar. Tepat 14 Februari 1945, tentara Peta melakukan pemberontakan namun menemui kegagalan.

Meski gagal, pemberontakan Peta di Blitar tetap dikenang menjadi peristiwa sejarah yang dicatat oleh bangsa Indonesia. Sebab, enam bulan kemudian, 17 Agustus 1945, Indoensia memproklamasikan kemerdekaannya.

“Drama ini menunjukkan kisah perjuangan rakyat Blitar dalam membantu kemerdekaan bangsa Indonesia. Meski pemberontakan gagal, menjadi cikal bakal perjuangan bangsa Indonesia untuk melawan Jepang,” kata Redi Wisono, sutradara drama teatrikal ini.

Sekedar mengingatkan, tentara Peta merupakan bentukan Jepang yang memberontak kepada pendudukan Dai Nippon karena tidak tahan melihat warga pribumi disiksa oleh penjajah tersebut.(mam)

post-top-smn

Baca berita terkait