Thursday, 3 December 2020

Penyebaran Informasi Obat dan Makanan

post-top-smn
Umi Baroroh menyampaikan bahwa makan harus bebas bahan berbahaya, baik bahaya bahan kimia, biologis dan fisik dan juga mengungkapkan bahwa gejala umum penyakit akibat pangan diantaranya diare, pusing, mual, muntah, demam dan sakit perut.

Umi Baroroh menyampaikan bahwa makan harus bebas bahan berbahaya, baik bahaya bahan kimia, biologis dan fisik dan juga mengungkapkan bahwa gejala umum penyakit akibat pangan diantaranya diare, pusing, mual, muntah, demam dan sakit perut.

Kediri, SMN – Bertempat di Ruang Pertemuan Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Selasa (8/3) diselenggarakan Acara Penyebaran Informasi Obat dan Makanan. Hadir dalam kegiatan tersebut para perwakilan dari seluruh unsur Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Kediri, perwakilan TP PKK se-Kabupaten Kediri serta beberapa pelaku UMKM.  Bertindak selaku narasumber, Dra. Umi Baroroh, Apt. dari Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen Balai Besar POM di Surabaya.

Membacakan sambutan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Kasi Farmasi Makanan dan Minuman Dinkes dr. Azis Syamsurizal mengungkapkan bahwa dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean, jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan massa yang potensial untuk pemasaran berbagai produk baik dalam negeri atau luar negeri.

“Sebagai konsumen kita harus waspada dan pintar dalam menggunakan produk-produk di pasaran. Apalagi makin marak pemberitaan di media mengenai makanan, kosmetik dan obat tradisional yang mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan” kata dr. Azis.

Menurut dr Azis, Dinas Kesehatan senantiasa bekerjasama dengan B POM untuk melakukan berbagai upaya perlindungan konsumen terhadap produk-produk berbahaya, melalui pengawasan produk dan penyebaran informasi yang benar mengenai produk makanan, kosmetik maupun obat tradisional.

“Kepada seluruh peserta kegiatan kali ini, kami harap untuk menyimak dengan seksama dan kemudian bisa turut serta menyebarluaskan kepada masyarakat sekitar” harap dr. Azis.

Para peserta mengikuti sosialisasi dengan serius

Para peserta mengikuti sosialisasi dengan serius

Pada kesempatan tersebut Dra. Umi Baroroh membagikan informasi mengenai mutu dan keamanan pangan. Makanan harus aman dari berbagai bahan berbahaya, baik bahaya biologis, bahaya kimia dan bahaya fisik. Makanan merupakan sumber energi dan zat untuk mendukung hidup manusia, tetapi dapat menimbulkan penyakit kalau tidak aman bagi kesehatan.

Umi Baroroh juga mengatakan bahwa penyakit akibat pangan (keracunan pangan) dapat disebabkan oleh mikroba yang mencemari pangan dan masuk ke dalam tubuh, kemudian hidup dan berkembang biak dan mengakibatkan infeksi pada saluran pencernaan. Penyakit juga bisa disebabkan oleh racun/toksin yang dihasilkan oleh mikroba pada pangan atau disebabkan bahan kimia dan unsur alami.

Adapun gejala umum penyakit akibat pangan diantaranya diare, pusing, mual, muntah, demam dan sakit perut. Sedangkan pangan menjadi beresiko melalui kontaminasi bahaya biologi, kimia, fisika yang terjadi karena ketidaksengajaan, ketidaktahuan atau ketidakpedulian.

“Faktor ketidaksengajaan misalnya peralatan masak sudah berkarat atau terlapisi seng dimana seng biasanya terkikis. Peralatan masak paling bagus adalah yang terbuat dari stainless. Kalau tidak ada bisa menggunakan peralatan dari tanah liat atau kayu. Jangan lupa setelah dicuci, guyurlah peralatan kayu dengan air panas untuk membunuh kuman, karena detergent hanya membersihkan kotoran” terang Umi Baroroh.

Menurut Umi Baroroh, dibanding makanan luar negeri, makanan Indonesia jauh lebih beragam namun dari segi keamanan masih harus diwaspadai. “Disini ketika orang akan membeli makanan yang ditanyakan adalah enak atau tidaknya, jarang dijumpai orang yang menanyakan keamanannya” kata Umi Baroroh yang diamini peserta.

Ketidaktahuan terjadi karena produsen tidak mengetahui bahwa bahan yang digunakannya berbahaya. Contohnya penggunaan garam bleng yang sudah turun-temurun dipakai dalam pembuatan krupuk. Padahal bleng adalah bentuk tidak murni dari boraks.

Mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks memang tidak serta berakibat buruk terhadap kesehatan tetapi boraks akan menumpuk sedikit demi sedikit karena diserap dalam tubuh konsumen secara kumulatif. Seringnya mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian.

Sementara salah satu contoh ketidakpedulian menurut Umi Baroroh adalah ketika produsen menggunakan pewarna tekstil untuk membuat makanan. “Sudah tahu bahaya, tapi karena harganya lebih murah, warna lebih lanteks dan efek samping tidak serta merta kelihatan, ada yang masih menggunakan pewarna tekstil untuk mewarnai makanan” jelasnya.

Kepada para pelaku UMKM Umi Baroroh memberikan tips-tips agar produk baik dan aman dikonsumsi, diantaranya menjauhkan hewan peliharaan dari dapur atau tempat produksi, selalu mengenakan sarung tangan dan masker, ada upaya pengendalian hama seperti perangkap tikus dan ram08but dalam keadaan tertutup.

“Yang utama bahan baku mulai diolah sampai masuk tahap pengemasan haris dijaga kebersihannya. Mungkin bahan baku baik, peralatan juga baik, tapi ketika akan dikemas ternyata tangan kotor, maka bukan tidak mungkin makanan terkena kuman” urai Umi Baroroh.

Seluruh peserta mendengarkan dengan seksama penjelasan narasumber dari BPOM Surabaya tersebut. Tidak sedikit yang bertanya tentang prosedur registrasi BPOM atau penerbitan sertifikat halal. (ms/adv/kan)

 

post-top-smn

Baca berita terkait