Friday, 27 November 2020

Penurunan Harga Gas Industri Berdampak Positif Bagi Pemerintah

post-top-smn
Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memulai rapat terbatas terkait penetapan harga gas industri di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (4/10). Presiden memberi ultimatum agar harga gas sektor industri diturunkan di kisaran US$5-6 dolar per MMBTU.

Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memulai rapat terbatas terkait penetapan harga gas industri di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (4/10). Presiden memberi ultimatum agar harga gas sektor industri diturunkan di kisaran US$5-6 dolar per MMBTU.

Jakarta, SMN – Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto memastikan, penurunan harga gas industri akan memberikan dampak baik terhadap perekonomian Indonesia. Airlangga menyebutkan, dampak tersebut memberikan penghematan hingga Rp31 triliun per tahun.

“Iya ini itu minimal, economic impact assessment,” kata Airlangga di Komplek Istana, Jakarta, Selasa (4/10/2016).

Airlangga menyebutkan, penghematan tersebut berasal dari 10 industri dan satu kawasan industri yang teridentifikasi pemerintah siap menikmati harga gas di bawah USD6 per mmbtu.

Apalagi, kata Airlangga, pemerintah siap memanfaatakan potensi gas yang selama ini belum tergarap secara maksimal. Seperti ladang gas Bintuni, dan lainnya.

Harga gas Indonesia saat ini mencapai USD9,5 per mmbtu. Bahkan, harga gas pernah mencapai USD11 sampai USD12 per mmbtu. Padahal, harga gas di Vietnam hanya USD7 per mmbtu, di Malaysia USD4 per mmbtu, di Singapura USD4 per mmbtu.

Untuk mengubah hal tersebut, kata Airlangga, diperlukan perbaikan regulasi terutama di sektor hilir dan juga asumsi daripada mekanisme teknis seperti depresiasi. Airlangga meyakini, jika perbaikan regulasi dirampungkan, maka sebelum akhir November 2016 harga gas sudah sesuai dengan yang diinginkan Presiden Jokowi.

Perbaikan regulasi, sambung Airlangga, akan dilakukan oleh Kemenko Perekonomian, Kemenko Kemaritiman, Kementerian Keuangan, dan juga Kementerian Perindustrian, yang mana akan menghitung ulang mulai dari multiplier effect hingga potensi penerimaan negaranya.

 

Sumber: okezone.com

post-top-smn

Baca berita terkait