Sunday, 27 September 2020

Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Penjasorkes Melalui Modifikasi Bola Voli Mini Pada Siswa Kelas IV SDN Sidomulyo 2 Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri

post-top-smn
Sunarko dan Anak Didiknya saat Pelajaran Penjasorkes di Sekolah

Sunarko dan Anak Didiknya saat Pelajaran Penjasorkes di Sekolah

MODEL pembelajaran pendidikan jasmani tidak harus terpusat pada guru, orientasi pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak, sehingga menarik dan menyenangkan, sasaran pembelajaran ditujukan bukan hanya mengembangkan keterampilan olahraga, tetapi pada perkembangan pribadi anak seutuhnya. Dengan demikian tugas guru mendidik harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik yang sedang belajar. Tugas mengajar guru yang sesuai ini harus mampu mengakomodasi setiap perubahan yang lebih baik, (Suherman, 2000:1).Jadi dapat disimpulkan, bahwa pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncanakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik serta fisik. Sebagai contoh pada pembelajaran materi voli. Pembelajaran seringkali tidak sesuai karakteristik anak, sehingga kreativitas kesenangan anak tidak terfikirkan. Inti dari modifikasi adalah menganalisa dan mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar potensial yang dapat memperlancar siswa dalam belajarnya, (Suherman, 2000:1). Pengembangan pembelajaran permainan bola voli pada pendidikan jasmani melalui modifikasi sangatlah tepat dilakukan, karena selain bervariasi, menyesuaikan terhadap kemampuan dan karakteristik anak, sehingga mereka tidaklah terlalu bosan mengikuti pembelajaran, termotivasi dan bergairah untuk bergerak. Oleh sebab itu pembelajaran permainan bola voli perlu dilakukan modifikasi dan juga perubahan dalam strategi pembelajaran. Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan developmentally appropriate practice (DAP), yang di dalamnya memperhatikan ukuran tubuh siswa harus selalu menjadi prinsip utama dalam memodifikasi pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.

Menurut paham konvensional (Darsono, 2000;24), pendidikan dalam arti sempit diartikan bantuan kepada siswa terutama pada aspek moral atau budi pekerti, sedangkan pengajaran diartikan sebagai bantuan kepada anak didik dibatasi pada aspek intelektual dan keterampilan. Unsur utama dari pembelajaran adalah pengalaman anak sebagai seperangkat event sehingga terjadi proses belajar.

Aliran behavioristik mengemukakan bahwa pembelajaran adalah usaha guru terbentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan atau stimulus. Sedangkan aliran kognitif mendefinisikan pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari. (Darsono, 2000:24).

Prinsip pengaturan kegiatan dalam pembelajaran dibagi menjadi tiga: 1) Prinsip pengaturan kegiatan kognitif, 2) Prinsip pengaturan kegiatan afektif, 3) Prinsip pengaturan kegiatan psikomotorik. 1) Prinsip pengaturan kegiatan kognitif, Pembelajaran hendaknya memperhatikan bagaimana mengatur kegiatan kognitif yang efisien. Caranya mengatur kegiatan kognitif yang efisien menggunakan sistematika alur pemikiran dan sistematika proses pembelajaran itu sendiri. 2) Prinsip pengaturan kegiatan afektif Pembelajaran afektif perlu memperhatikan dan menerapkan tiga pengaturan kegiatan afektif, yaitu factor conditioning, behavior modification, human model. Factor conditioning yaitu prilaku guru yang berpengaruh terhadap rasa senang atau rasa benci siswa terhadap guru. Factor behavior modification yaitu pemberian penguatan seketika. Factor human model yaitu contoh berupa orang yang dikagumi dan dipercaya oleh siswa. 3) Prinsip pengaturan kegiatan psikomotorik Pembelajaran psikomotorik mementingkan faktor latihan, penguasaan prosedur gerak-gerak dan prosedur koordinasi anggota badan. Untuk itu diperlukan pembelajaran fase kognitif.

Menurut Puerwadarminta karakter adalah watak, tabiat atau sifat-sifat kejiwaan. Karakteristik siswa SD menurut Peurwadarminta : 1) Senang bermain, 2) Senang bergerak, 3) Anak senang bekerja dalam kelompok, 4) Senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Jadi dapat disimpulkan karakteristik siswa Sekolah Dasar meliputi karakteristik fisik, mental dan sosial emosional dan bentuk dari karakteristik siswa Sekolah Dasar itu antara lain senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.

Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan developmentally appropriate practice (DAP). Untuk itu DAP yang di dalamnya memperhatikan ukuran tubuh siswa harus selalu menjadi prinsip utama dalam memodifikasi pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Inti dari modifikasi adalah menganalisa sekaligus mengembangkan materi pembelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar potensi yang dapat memperlancar siswa dalam belajarnya, (Suherman, 2000:1). Esensi modifikasi adalah menganalisa sekaligus mengembangkan materi pembelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar yang potensial yang dapat memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, dari tingkat yang rendah ketingkat yang lebih tinggi, yang tadinya kurang terampil menjadi terampil, (Yoyo Bahagia, dkk, 2000:1). Jadi dapat disimpulkan modifikasi adalah menganalisa sekaligus mengembangkan suatu bentuk dan mengarahkan pihak yang terdapat didalamnya untuk menjadikan dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tingkat rendah ke yang lebih tinggi, dan yang tadinya kurang terampil menjadi terampil.

Modifikasi ini dapat diklasifikasikan dalam berbagai hal seperti : 1) Peralatan, 2)Penataan ruang gerak, 3) jumlah siswa yang terlibat, 4) formasi pembelajaran. (Suherman, 2000:7-8)

Beberapa komponen yang dapat dimodifikasi sebagai pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani diantaranya adalah : 1) Ukuran berat atau peralatan yang digunakan, 2) Lapangan permainan, 3) Waktu bermain, 4)Peraturan permainan dan 5) Jumlah pemain. Jadi modifikasi adalah suatu cara atau usaha yang dilakukan guru berupa rancangan model pembelajaran yang baru dan lebih variatif untuk menarik minat siswa agar lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran dan dapat menciptakan perubahan, sekaligus meningkatkan mutu pendidikan.Permainan bola voli mini merupakan salah satu permainan atau cabang olah raga yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran Penjasorkes di Sekolah Dasar. Teknik dasar bola voli mini terdiri dari : 1) Servis, 2) Passing, 3) Smash (spike). 4) Bendungan (block)

Pada prinsipnya peraturan permainan yang dipergunakan sama dengan peraturan permainan bola voli mini terbaru,kecuali ada beberapa ketentuan khusus,antara lain: a) lama bermain two winning set, b) tinggi net 2,00 meter c) ukuran lapangan 12 meter x 6 meter, d) setiap regu terdiri dari 4 pemain, e) bola dari plastik berlapis spon (Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, 2012: 21)

 

METODE PENELITIAN

Dalam proses penelitian ada 4 kali pertemuan dalam dua siklus. Di pertemuan pertama siswa diberikan materi tentang teknik dasar dan peraturan yang berlaku dalam permainan bola voli mini, dan juga peraturan mengenai cara bermain bola voli mini dengan baik dan benar, cara penghitungan dengan sistem rally point, dan permaian hingga penilaian. Dipertemuan ke dua, siswa bermain bola voli mini dan dinilai oleh guru dengan menggunakan checklist yang telah di persiapkan. Selanjutnya guru memberikan evaluasi atas penilaian yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya, memberikan perbaikan pada langkah-langkah yang telah dilakukan dan kemudian memberikan kesempatan pada siswa untuk mempraktekkannya dilapangan. Selama proses praktek berlangsung guru akan memberikan penilaian sesuai dengan checklist untuk menilai perkembangan siswa.Rancangan penelitian yang digunakan mengacu pada model Kemmis dan M.C. Taggart (Arikunto, Suharsimi, 2009: 16) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

Instrumen yang digunakan adalah checklist dan analisa data dengan teknik statistik deskriptif prosentase. Setelah data terkumpul lalu diberi skor, penilaian responden dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dengan menggunakan pedoman.Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dapat ditunjukkan dengan ketuntasan belajar siswa. Berdasarkan teori belajar tuntas, maka seorang pendidik dipandang tuntas belajar jika mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi atau mencapai tujuan pembelajaran dalam kategori baik. Sedangkan keberhasilan kelas dilihat dari jumlah peserta didik yang mampu menyelesaikan meningkat atau mencapai prestasi baik.

 

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan paparan pembahasan, maka hasil penelitian penilaian aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui modifikasi bola voli mini berdampak positif terhadap prestasi belajar Penjasorkes siswa kelas 4, sehingga prestasi siswa dapat meningkat secara signifikan, ini terbukti adanya peningkatan rata-rata atau prosentase secara klasikal pada siklus I ke silkus II yaitu aspek kognitif berhasil meningkat 20,84%, aspek afektif berhasil meningkat 17,04% dan aspek psikomotorik meningkat sebesar 19,04%. Dan masing-masing aspek meningkat dengan menunjukan kriteria baik, yaitu aspek kognitif mencapai 89,59%, aspek afektif mencapai 85,58%, aspek psikomotorik mencapai 88,71%. Demikian juga jumlah siswa yang tuntas dari masing-masing aspek mulai siklus I sampai siklus II menunjukan peningkatan yaitu aspek kognitif dari 10 siswa yang tuntas meningkat menjadi 19 siswa (79%), aspek afektif dari 11 siswa yang tuntas meningkat menjadi 20 siswa (83%), aspek psikomotorik dari 12 siswa yang tuntas meningkat menjadi 22 siswa (92%). Rata-rata prosentase hasilnya masuk dalam kriteria kategori baik.

 

Kesimpulan

Pembelajaran Penjasorkes dengan modifikasi permainan bola voli mini dapat diterima oleh siswa dan dapat diterapkan di SDN Sidomulyo 2 Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Permainan ini dapat mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar Penjasorkes melalui modifikasi bola voli mini, dan untuk menjawab rumusan masalah penelitian ini, maka hasil penelitian dapat disimpulkan sbb:1) Aspek kognitif, hasil pengamatan pemahaman siswa dengan pencapaian rata-rata nilai sebesar 89,59% dan prosentase siswa yang tuntas ada 79% yaitu sebanyak 19 siswa, masuk kriteria baik 2) Aspek afektif, hasil pengamatan perilaku siswa dengan pencapaian sebesar 85,58% dan prosentase siswa yang tuntas ada 83% yaitu 20 siswa, masuk kriteria baik 3) Aspek psikomotor/unjuk kerja, hasil pengamatan keterampilan siswa dengan pencapaian sebesar 88,71%, dan prosentase siswa yang tuntas ada 92% yaitu 22 siswa, masuk kriteria baik. Disimpulkan bahwa pembelajaran dengan modifikasi bola voli mini dapat meningkatkan prestasi belajar Penjasorkes siswa kelas IV SDN Sidomulyo 2 Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. Prestasi belajar Penjasorkes dapat meningkat secara signifikan.Bagi guru Penjasorkes diharapkan dapat mengembangkan model-model permainan bola voli mini yang menarik lainnya untuk digunakan dalam pembelajaran permainan bola besar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2009. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta

Dinas Pendidikan Prropinsi Jawa Timur, 2012. Pedoman Olimpiade Olahraga Siswa Jenjang SD TK Propinsi Jatim Tahun 2012, Surabaya

Darsono,. 2000. Belajar Pembelajaran, Semarang,Ikip Semarang Press : Depdikbud.

Suherman, dan Bahagia. 2000. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Modifikasi Cabang Olahraga. Jakarta : Depdiknas.

Yoyo, Bahagia. 2000. Prinsip-Prinsip Pengembangan dan Modifikasi Cabang Olahraga. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Pendidikan Dasar Menengah.

 

Oleh: Sunarko,S.Pd (Guru di SDN Sidomulyo 2 Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri)

post-top-smn

Baca berita terkait