Sunday, 29 November 2020

Para Pembudidaya Tambak Yang Menggunakan Sistem Busmetik Semakin Meningkat

post-top-smn
Petani pembudidaya udang di pasuruan

Petani pembudidaya udang di pasuruan

Pasuruan, SMN – Untuk Pemerintah Kabupaten Pasuruan lewat Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) terus mengajak masyarakat supaya beralih menggunakan teknologi Insentif Budidaya Udang Vaname dengan sistem Busmetik menjadi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik.

Ajakan untuk masyarakat telah disampaikan oleh Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf disaat melakukan Panen Udang Vaname dengan Sistem Busmetik di Pondok Pesantren Darul Khoirot, di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Kamis (18/5/2017).

Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf menjelaskan, untuk teknologi busmetik ini akan berhasil, dengan cara itu telah diterapkan oleh para pembudidaya tambak, dan cara tersebut telah sukses juga berhasil disaat didalam areal pondok pesantren Darul Khoirot Kabupaten Pasuruan menggunakan sistem busmetik, kami pun juga berharap untuk para petani Udang dapat segera beralih dari sistem tradisional menjadi sistem berteknologi.

“Saya himbaukan agar teknologi busmetik ini dapat dikuasai oleh pembudidaya tambak sehingga untuk ke depan dapat membawa kejayaan dalam produksi Udang di Kabupaten Pasuruan. Karena jelasnya kita telah ketahui bersama baahwa sistem busmetik merupakan sistem terobosan dan inovas di sektor Perikanan.

Lebih lanjut Irsyad menegaskan, dengan sistem busmetik, untuk produksi ikan bisa ditingkatkan untuk sementara, karena hasil bisa mencapai dua kali lipat dari hasil budidaya udang dengan menggunakan sistem tradisional. kita pun juga bisa membandingkan untuk hasil bila kita menggunakan sistem busmetik contohnya, untuk 1 denfarm (petak) yang berukuran 20X20 meter atau 400 meter persegi bisa menghasilkan 800 kg Udang Vaname, sedangkan apabila kita menggunakan sistem tradisional, maksimal kita hanya bisa menghasilkan 100-300 kg saja.

“Maka dari itu, banyak sekali keuntungan yang kita dapatkan apabila membudidayakan Udang Vaname bila kita menggunakan dengan sistem busmetik, sehingga saya menghimbau kepada para petani Udang agar segera beralih menggunakan sistem busmetik, meskipun untuk biaya awalnya yang cukup mahal,” tegasnyanya.

Disisi lain, Slamet Nur Handoyo, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pasuruan menjelaskan, untuk jumlah petani yang telah menggunakan sistem busmetik semakin lama terus meningkat dari awalnya hanya 1 kelompok yang menggunakan sistem busmetik adalah Kecamatan Lekok saja, kini menjadi 18 kelompok petani dan yang paling tersebar yang menggunakannya dari beberapa wilayah, adalah Bangil, Kraton, Lekok dan Nguling. Namun hanya saja, bila kita dapat menerapkan teknologi busmetik memang diperlukan biaya yang cukup mahal, di mana biaya yang dimaksud adalah pembuatan kontruksi, mulai terpal hingga peralatan pendukung dan lainnya yang bisa menghabiskan sampai Rp 100 juta.

Walau begitu, Slamet memastikan untuk seluruh biaya tersebut akan tertutupi dalam siklus keempat. Yang artinya, saat panen pertama pada saat udang yang berumur 90 hari, total keuntungan yang didapatkan bisa mencapai Rp 50 juta lebih, sehingga pada panen kedua, ketiga dan panen yang ke empat, modal tersebut sudah tertutupi, “BEP (Break even point) atau titik impas nya ada pada siklus yang keempat. Dengan catatan untuk para petani sudah paham betul dengan teknologi ini, dan itu saya jamin,” jelasnya.

Lebih lanjut Slamet menambahkan, bila kita menggunakan sistem busmetik, udang akan bebas dari penyakit karena denfarm sendiri tidak bersentuhan langsung dengan perairan bebas, baik tambak maupun laut, serta bebas dari pencemaran.

“Semua teknologi busmetik dan cara kegunaannya harus dikuasai oleh para petani, seperti pensetrilan air, pemupukan dengan pupuk organik (pro biotik), penebaran ikan, hingga proses panen,” pungkasnya. (Pur)

post-top-smn

Baca berita terkait