Thursday, 3 December 2020

Pakde Karwo Kelola LH dengan Pendekatan Partisipatoris dan Kultural

post-top-smn
Gubernur Jatim Soekarwo sampaikan penanganan soal lingkungan hidup di Jatim dihadapan para panelis Seleksi Tahap III Nirwasita Tantra Award yang diselenggarakan Kementerian LH dan Kehutanan RI di Jakarta

Gubernur Jatim Soekarwo sampaikan penanganan soal lingkungan hidup di Jatim dihadapan para panelis Seleksi Tahap III Nirwasita Tantra Award yang diselenggarakan Kementerian LH dan Kehutanan RI di Jakarta

Surabaya, SMN – Berbagai permasalahan Lingkungan Hidup (LH) di Jawa Timur dikelola dan ditangani dengan baik oleh Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo melalui pendekatan partisipatoris dan kultural. Pendekatan yang dilakukan Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim itu memperoleh apresiasi positip dari tujuh panelis yang menjadi tim penilai penghargaan Nawasita Tantra Award oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI tahun 2016.

Pakde Karwo berhasil masuk kedalam seleksi tahap akhir nominator peraih penghargaan tersebut dikarenakan kepemimpinannya yang baik dan terbukti berhasil dalam menata dan mengelola LH di wilayahnya, pria asli Madiun tersebut berhasil masuk kedalam 7 nominator terbaik dengan menyisihkan kepala daerah dari 24 provinsi di Indonesia.

Bertempat di Auditorium Dr. Soedjarwo Gedung Manggala Wanabakti, Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (4/6), tujuh panelis, yakni Prof. Hariadi K, TB. Deddy Gumelar, Dr. Suhaeri, Henri Subagiyo, SH, Prof. Lilik B.P, Chalid Muhammad, dan Prof. Suryo AB menyimak dengan seksama penjelasan Pakde Karwo terkait cara pengelolaan LH.

Gubernur Jatim Soekarwo berdialog dengan para panelis Seleksi Tahap III Nirwasita Tantra Award yang diselenggarakan Kementerian LH dan Kehutanan RI di Jakarta

Gubernur Jatim Soekarwo berdialog dengan para panelis Seleksi Tahap III Nirwasita Tantra Award yang diselenggarakan Kementerian LH dan Kehutanan RI di Jakarta

Pakde Karwo menuturkan, keberhasilan menata dan mengelola LH dikarenakan Pemprov Jatim selalu mengutamakan pendekatan partisipatoris dan pendekatan kultural. “Kami tidak memaksakan pikiran kami kepada masyarakat, tapi masyarakat kita ajak bicara dan ikut dilibatkan dalam pengambilan kebijakan. Mulai dari tingkat terbawah, yakni dari desa sampai diajak mengikuti Musrenbang Daerah, aspirasi masyarakat selalu kami perhatikan dan dikawal,” katanya.

Salah contoh upaya partisipatoris adalah saat program penanaman pohon, pada awalnya, pemprov menggandeng Koramil, kemudian karena program tersebut bagus dan bermanfaat bagi masyarakat, mereka pun ikut dilibatkan, dan dengan senang hati bergabung menyukseskan program tersebut. Hasilnya, sejak 2010, Jatim rajin meraih prestasi penanaman pohon dalam Gerakan Penanaman Satu Miliar Pohon.

Yakni, pada 2010, menanam pohon sebanyak 181.408.952 batang (Juara I Nasional) atau melebih target yang ditetapkan 143.494.837 batang, pada 2011 menanam 206.129.262 (Juara I Nasional) melebihi target dari target 143.494.837 batang, pada 2012 menanam 212.580.707 batang (Juara 1 Nasional) melebihi dari target 143.494.837 batang, dan pada 2015 meraih Juara Umum Wana Lestari dengan menanam 114.583.133 pohon, dimana penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo.

Selain itu, bentuk partisipatoris lainnya adalah mengajak masyarakat dan para stakeholder untuk merehabilitasi lahan kritis dengan mengembangkan hutan rakyat, salah satunya dengan menanam pohon sengon, hasilnya, hutan rakyat meningkat hutan rakyat 743.933,19 Ha ( dari 28 % menjadi 40 %).

“Untuk menyukseskan pembangunan LH, kami melakukan segala upaya. Mulai membentuk kelompok kerja tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sosialisasi program dan kegiatan, mobilisasi segenap sumber daya, pembentukan posko penyediaan bibit baik di tingkat provinsi hingga desa, mengajak organisasi masyarakat, instansi/lembaga, lembaga pendidikan dan TNI/Polri, hingga menanamkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menanam tanaman kehutanan/tahunan guna mendukung pendapatan dan lingkungan, itulah bentuk partisipatoris kami” katanya.

Berbagai kegiatan partisipatoris tersebut berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga LH, imbasnya, Jatim secara rutin sukses meraih penghargaan dari pemerintah pusat, diantaranya penghargaan Kalpataru Tahun 2015, untuk kategori Perintis Lingkungan meraih 13 penghargaan, Penyelamat lingkungan (18 penghargaan), Pengabdi Lingkungan (15 penghargaan), dan Pembina Lingkungan (3 penghargaan).

Kemudian Penghargaan Adipura Tahun 2015, kategori Adipura Kencana (1 kota), Anugerah Adipura (15 kabupaten/kota), Sertifikat Adipura (8 kabupaten/kota), kemudian untuk program penilaian kinerja perusahaan (PROPER), Jatim berhasil meraih 136 penghargaan Adiwiyata Mandiri atau 30% dari keseluruhan penghargaan nasional, Adiwiyata Nasional (306 penghargaan), dan Adiwiyata Provinsi (44 penghargaan).

Gubernur Jatim Soekarwo disambut para panelis Seleksi Tahap III Nirwasita Tantra Award yang diselenggarakan Kementerian LH dan Kehutanan RI di Jakarta

Gubernur Jatim Soekarwo disambut para panelis Seleksi Tahap III Nirwasita Tantra Award yang diselenggarakan Kementerian LH dan Kehutanan RI di Jakarta

Secara kultural, Pakde Karwo juga menghidupkan kembali kearifan lokal guna menjaga LH di lokasi-lokasi yang memiliki nilai historis, seperti mencanangkan Gerakan Desa Pelindung Sumber Daya Alam dan Pengukuhan Penyuluh Konservasi Kawasan Perdesaan di kawasan pegunungan Argopuro bersama Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan (Kapal) Jatim, lalu menggandeng LSM untuk pengawasan terhadap mata air.

Kemudian, membuat embung dengan teknologi geo-membrane di beberapa kabupaten yang mengalami krisisi air seperti di Bojonegoro, Lamongan, dan Pamekasan. Geo-membrane memiliki kapasitas 5 ribu meter kubik, atau setara dengan 1.000 truk tangki air. Pada tahun 2012 dibangun embung sebanyak 21 unit, tahun 2013 sebanyak 41 unit, dan tahun 2014 sebanyak 100 unit.

“Embung itu kultural khas Jatim, nah, kami aplikasikan melalui teknologi geo-membrane yang ada water treatmentnya, jadi ketika memasuki masa kemarau, masyarakat bisa menggunakannya. Dengan ini, kemiskinan bisa dikurangi” katanya.

Salah seorang panelis, Henri Subagiyo, SH menanyakan, Jatim di satu sisi kriris air ketika musim kemarau, namun ketika musim hujan, banyak daerah yang kelebihan air. “Padahal menurut Pakde, hutan rakyat bertambah, apakah hutan tersebut belum mengcover persoalan air tersebut?” tanyanya.

Pakde Karwo menjawab, “potensi air di Jatim adalah 52,2 milyar m3, sementara ketersediaan air 19,3 milyar m3, sedangkan kebutuhan airnya mencapai 22,2 m3, jadi Jatim masih kekurangan air, jumlah air di Jatim adalah seperempatnya Jawa Tengah, dan sepertujuhnya Jawa Barat. Karena itulah, kami membangun embung dengan teknologi geo-membrane, banjir sering terjadi di wilayah Bengawan Solo dan di Sampang. Sdangkan di Bondowoso, sudah tidak banjir karena sudah tidak memerlukan pembangkit listrik dengan teknologi tenaga air. Sebelumnya, bendungan digunakan untuk pembangkit listrik. Saat ini sudah dialiri listrik, sehingga tidak perlu membendung air diwaduk berlebihan. Cukup untuk pengairan tanam,” jawab Pakde.(*)

post-top-smn

Baca berita terkait