Wednesday, 30 September 2020

Nendangnya Bisnis Jamur Krispi

post-top-smn

Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri

Bagas Bersama Walikota Kediri

Bagas Bersama Walikota Kediri

SMN – Anak muda jaman sekarang tidak ada yang tidak mengenal teknologi. Hal itu terjadi pula pada Bagas, seorang pemuda berumur 20 tahun asal kelurahan Blabak, Kota Kediri. Siang itu Bagas sedang asyik bermain dengan gadgetnya. Tapi jangan salah sangka, walau bermain gadget Bagas saat itu sedang melayani orderan jamur krispi dari para resellernya. Ya, Bagas menggunakan gadgetnya untuk menjalankan usaha jamur krispinya. Tidak banyak saat ini pemuda yang menggunakan gadgetnya untuk menjalankan usaha, rata-rata mereka menggunakannya hanya sekedar untuk bermedia social.

Di usianya yang masih terbilang cukup muda, Bagas bisa dibilang sudah mempunyai pengalaman yang sangat banyak berurusan dengan dunia uang. Cerita itu berawal ketika duduk di kelas 3 MTsN 2 Kota Kediri. Waktu itu ia mempunyai inisiatif sendiri berjualan keripik singkong dengan merek “SUTELO”. Bagas mengambil produk keripik singkong tersebut dari UKM produsen keripik singkong kemudian menjualnya di kantin sekolah dan menawarkan ke teman-teman seangkatannya. Selepas dari MTsN 2, Bagas melanjutkan pendidikanya ke SMAN 7. Di sini Bagas mulai membentuk dan membangun tim untuk lebih melancarkan penjualan keripik singkongnya.

Tim tersebut bernama “YESHOP” atau kependekan dari Young Entrepreneur Shop. “YESHOP” beranggotakan 5 orang dengan Bagas sebagai ketuanya dan Yosa, Thalia, Putra, serta Dona sebagai anggota tim tersebut. Konsep dari “YESHOP” adalah berapapun keuntungan jualanya maka akan dibagi berlima. Pada YESHOP ini, Bagas dkk tidak mengeluarkan uang pribadi sedikitpun untuk kulakan barang. Hal tersebut karena YESHOP menjualnya secara on line dengan sistem Pre-Order bagi konsumen yang ingin membeli alias membayar dahulu baru barang dikirim. Sungguh ide cerdas untuk ukuran pemuda seumuran Bagas pada waktu itu. Status siswa pada saat itu tidak menghalangi Bagas dan tim untuk terus menjalankan usahanya.

Lika-liku usaha Bagas dkk dimulai ketika ia ditawari oleh temannya untuk mengikuti Multi Level Marketing (MLM) yang bergerak di bidang pendidikan. Merasa MLM tersebut adalah hal baru, maka Bagas tertantang untuk ikut dan meninggalkan usaha keripik singkongnya. Di MLM ini Bagas belajar banyak hal, mulai dari bagaimana cara berjualan, bagaimana cara mengelola uang, bagaimana cara membangun tim, bagaimana cara teknik closing dalam berjualan. Hal tersebut membuat Bagas sangat antusias dan mengajak seluruh anggota timya dulu untuk ikut masuk di bisnis barunya tersebut.

Setelah berjalan selama 1 tahun dengan penjualan yang mengesankan, manajemen MLM tersebut mulai menunjukkan gelagat yang tidak baik. Uang bonus hasil penjualan yang diterima Bagas dan tim mulai jauh dari nilai yang dijanjikan. Setelah beberapa kali masalah tersebut terjadi maka Bagas dan tim memutuskan untuk keluar dari MLM tersebut. Padahal waktu itu Bagas sudah mempunyai banyak sekali downline yang loyal dan terus menghasilkan omzet.

Bermodalkan keuntungan dari MLM sebelumnya, Bagas dan tim berpindah ke MLM yang juga dikelola oleh kenalan Bagas. Pada waktu itu tahun 2014 sedang booming-booming-nya MLM berkedok investasi yang sebenarnya adalah money game. Pada waktu itu Bagas belum mengetahui apa itu money game. Setelah dijelaskan konsep dari MLM tersebut Bagas beserta tim langsung bergerak dan mendapatkan banyak investor. Tidak tanggung-tanggung, Bagas berhasil mendapatkan miliaran dana dari para investor yang mau menginvestasikan dananya di bisnis MLM ini. Diantara investor tersebut bahkan ada juga yang merupakan anggota DPRD. Namun demikian, Bagas juga mengeluarkan banyak uang (yang juga ia dapatkan dari bisnis MLM tersebut) untuk “merawat” para investornya agar tetap loyal pada Bagas.

Bisnis Bagas pada MLM investasi tersebut tidak berlangsung lama seiring dengan meredupnya pamor dari MLM tersebut. Cabang dari MLM yang diikuti Bagas tersebut meninggalkan masalah yang pelik dikarenakan manajemen membawa kabur dana investasi dari para investor. Bagas selaku perantaralah yang harus menanggung semua permasalahan tersebut. Dari sisa-sisa dana yang ada, Bagas berusaha melunasi tanggungan tersebut. Namun demikian, dia masih membukukan keuntungan bersih 80 juta rupiah.

Kegagalan pada bisnis MLM tersebut tidak membuat Bagas trauma. Seorang kenalan di MLM investasi yang kolaps sebelumnya mengajak Bagas untuk mendirikan MLM serupa dengan modal sendiri. Maka berdirilah MLM serupa tapi tak sama tersebut dengan Bagas sebagai pencari investornya. Dalam waktu dekat Bagas berhasil menghimpun dana 1,1 miliar rupiah dari para investor. Dari dana tersebut ada yang digaransi ada juga yang tidak digaransi oleh Bagas dikarenakan memang tingginya resiko pada bisnis tersebut. Benar saja, tidak lama setelah semua dana terhimpun, manajemen MLM tersebut membawa kabur dana dari para investor. Lagi-lagi Bagas harus menanggung semua dana dari para investor yang telah ia himpun.

Dana Bagas yang tidak mencukupi membuat ia harus memutar otak untuk dapat memecahkan masalah tersebut. Kerumitan masalah yang dihadapi Bagas bertambah ketika Ujian Akhir Nasional (UAN) tinggal menghitung hari lagi. Maka Bagas memilih cara instant agar dapat keluar dari masalah tersebut yaitu bermain judi on-line. Saran itu ia dapatkan dari teman MLM investornya dulu. Ta berpikir lama, maka terjunlah ia bermain judi on-line. Dari bermain judi on-line tersebut Bagas mendapatkan keuntungan yang luar biasa dan dapat melunasi tanggunganya terhadap para investor.

Lepas dari MLM investor, bukannya trauma Bagas malah ingin menjalankan usaha MLM investor tersebut dengan cara ia sendiri. Langsung saja ia menghubungi para investornya dahulu untuk membicarakan konsepnya. Mulailah ia menghimpun dana untuk membuat website yang sama persis dengan MLM investor tersebut. Terkumpulah dana 35 juta rupiah untuk membangun website tersebut. Bagas mendatangi seorang web-developer yang ia kenal untuk membicarakan pembuatan website yang ia kehendaki. Setelah terjadi kesepakatan harga dan lama waktu pembuatan diserahkanlah uang 35 juta rupiah tersebut. Kemudian sesuai dengan waktu yang dijanjikan ternyata web-developer tersebut tidak memenuhinya dan malah membawa kabur uang 35 juta rupiah tersebut. Dari sinilah yang kemudian menjadi titik balik Bagas untuk bertobat untuk bermain uang dengan MLM.

Setelah kejadian tersebut, Bagas mulai berpikir ke depan. Sepuluh juta rupiah dana tersisa saat ini yang masih Bagas pegang. Dari dana tersbut ia mencoba mengikuti seminar kewirausahaan yang diadakan di salah satu hotel ternama di kota Kediri. Setelah mengikuti seminar tersebut Bagas mendapat ide untuk mulai membuka usaha budidaya jamur. Mulailah ia membangun kumbung dan membeli baglog jamur tiram dari sisa-sisa dana yang ada. Setelah berhasil menjalankan budidaya jamur ternyata Bagas mendapati kendala lain, yaitu bagaimana menjualnya. Sementara ditempat lain yang tidak jauh dari tempat Bagas, ada beberapa petani jamur yang juga sedang panen jamur. Tak pelak hal tersebut membuat harga jamur tiram jatuh. Kemudian ia mecari ide lain bagaimana agar jamur tiram tersebut memiliki nilai tambah.

Ide jamur krispi didapat Bagas ketika ia sedang browsing internet. Mulailah ia mencoba-coba resep yang pas untuk produk barunya tersebut. Setelah ia mendapat resep yang pas, mulailah ia menyiapkan kemasan dan penjualan produk jamur krispi. Fikri, seorang sahabat mulai 1 tim dari awal Bagas menjalankan usaha sampai ia berakhir mengikuti MLM selalu setia menemani Bagas dalam usaha apapun, coba Bagas ajak kembali untuk menjalankan usaha jamur krispi ini. Hari pertama pada awal Juni 2015 berjualan di Car Free Day (CFD) Simpang Lima Gumul tidak ada yang laku. Kemudian pada pekan berikutnya pindah ke CFD Jalan Doho, Bagas membawa 40 bungkus jamur krispi dan laku 2 bungkus dengan keuntungan 2000 rupiah per bungkus. Sebuah hal sangat miris yang harus dijalani oleh Bagas yang sebelumnya mendapatkan keuntungan puluhan juta rupiah, sekarang hanya mendapatkan keuntungan 4000 rupiah diawal jualannya.

Keuntungan bersih 2000 rupiah yang Bagas dan Fikri dapatkan di CFD menjadi bahan lecutan buat mereka bahwa mereka bisa menjalankan usaha ini. Mulailah Bagas dan Fikri mencari merek yang pas untuk produk jamurnya. Maka didapatlah merek Jamur FCK. Pada launching hari pertama (25 Juni 2015) Jamur FCK via Blackberry Massenger (BBM) berhasil mengumpulkan omzet sebesar 25 juta rupiah. Hal tersebut ta pelak membuat Bagas dan Fikri senang bukan kepalang. Ilmu tentang penjualan, membangun tim, mengelola keuangan dan teknik closing penjualan yang ia dapatkan ketika ia mengikuti bisnis MLM coba Bagas terapkan di Jamur FCK ini. Disamping itu Bagas juga telah mendapatkan beberapa pelatihan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri termasuk pelatihan Marketing On Line.

Saat ini Jamur FCK telah memiliki reseller sebanyak 564 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Usaha Jamur FCK yang saat ini telah berumur 1 tahun 2 bulan ini telah menghasilkan omzet 40 juta rupiah/bulan. Rencana jangka panjang Bagas, FCK bisa menjadi brand tidak hanya untuk produk jamur krispi tetapi juga produk yang lain. Sedangkan rencana jangka pendeknya, Bagas ingin membuat aplikasi penjualan (appstore) di android maupun i-Phone untuk memudahkan para reseller dan konsumennya dalam mengorder Jamur FCK. Ternyata usasa sendiri membuat hati Bagas lebih tentram dan lebih bisa membuat Bagas mendekatkan kepada Allah SWT. Berbeda dengan ketika ia mengikuti bisnis MLM investor dulu, di mana sholat dan ngaji pun ia lupakan. Sekarang Bagas ingin bangkit dari Zero untuk menjadi Hero (lagi).

post-top-smn

Baca berita terkait