Wednesday, 21 October 2020

Menteri BUMN Jelaskan Rencana Penutupan Pabrik Gula

post-top-smn
Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Rini Soemarno

Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Rini Soemarno

Surabaya, SMN – Sejak akhir 2016, wacana penutupan sejumlah pabrik gula (PG) di Jatim telah banyak diberitakan. Menyikapi hal tersebut, Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Rini Soemarno menegaskan rencana penutupan tersebut tidak dilakukan secara langsung namun bertahap.

“Pada dasarnya kita sedang memfinalkan pemetaan secara benar. Pabrik gula di Jawa ini kebanyakan dibangun sejak 1910 bahkan 1890 jadi usianya sudah lebih dari 100 tahun. Kalau melihat efisiensinya sudah sangat rendah, kualitas juga tidak bisa mengikuti kualitas internasional,” kata Rini saat ditemui di Surabaya, Rabu (11/1) kemarin.

Menuruntya, jika PG cukup baik untuk direvitalisasi sehingga menghasilkan kualitas produk yang baik dan efisien bisa memproduksi etanol dan listrik, maka itu bisa dilanjutkan. Namun PG yang dianggap tidak efisien akan segera ditutup sembari menunggu proses pembangunan PG baru dengan kapasitas giling yang lebih besar.

“Selama lahan tebu cukup untuk memasok PG yang akan dibangun maka setelah PG baru beroperasi selanjutnya PG lama yang sudah tidak efektif bisa ditutup. Jadi kami gak akan langsung asal tutup aja tapi disiapkan dulu PG yang baru sehingga tidak berdampak langsung terhadap tenaga kerja,” ulasnya.

Ia menambahkan, pemerintah tetap memiliki tujuan agar masyarakat sejahtera tetap bekerja dan tidak ada pengangguran. Sehingga penutupan PG yang direncanakan tersebut tidak perlu dikhawatirkan dan tetap menjadi pertimbangan pemerintah. “Kami akan tetap berkoordinasi dengan Pak Gubernur (Soekarwo, red) untuk mematangkan rencana ini,” jelasnya.

Gubernur Jawa Timur, H Soekarwo meminta agar rencana penutupan tersebut tetap harus dikomunikasikan dengan pemerintah daerah agar tujuan penutupan PG tersebut lebih jelas dan bisa diterima oleh masyarakat. “Kami akan menyambut baik kalau memang diajak berkomunikasi dengan Bu Menteri BUMN,” katanya.

Hal itu tak lepas dari peran Jawa Timur yang selalu menjadi produsen gula terbesar nasional dan menyuplai banyak provinsi lain di Indonesia, khsusunya wilayah Timur. Dengan besarnya potensi tersebut, kata dia, maka perlu dibahas lebih detil dan bagaimana rencana pembangunan PG baru hingga proses penutupan PG peninggalan Belanda dilakukan. (afr/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait