Monday, 30 November 2020

Mengelola Emosi Orangtua

post-top-smn

 

Oleh: Ali Rohmad, Dosen FKIP UNISKA Kediri

Ali Rohmad

Ali Rohmad

Emosi adalah bagian tidak terpisahkan dari hubungan dalam keluarga. Pastikan kita memilih kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik. Sering kali orangtua sulit menangani emosi karena faktor pada dirinya, bukan pada anak. Orangtua berespons pada kebutuhannya, bukan berespons pada kebutuhan dan pengalaman belajar untuk anak. Anak akan meniru cara orangtua mengekspresikan emosi. Pilih waktu dan tempat yang kondusif untuk menghadapi anak saat ada tekanan emosi. Emosi negatif yang tidak ditangani atau disalurkan dengan tepat dapat memulai ‘lingkaran kemarahan’ kepada anak, diri sendiri, bahkan kepada emosi itu sendiri. Akibatnya, emosi tidak terkendali dan berulang, ancaman dan hukuman makin berat. Ini hal-hal Cara Baik Berperilaku Saat Anak Marah :

1) Dengarkan dengan penuh perhatian dan seluruh tubuh. Lakukan kontak mata dan sentuh anak dengan lembut.

2) Beri tanggapan dalam satu kata, bukan nasihat panjang, agar anak bebas berekspresi. “Oh, begitu.” Atau “Hmmm..”.

3) Berikan nama perasaan yang dialami anak. “Aku tahu rasanya kayak ada gunung meletus gitu di dada. Nggak enak, ya?”

4) Sebut tingkah laku anak, lalu kaitkan dengan emosinya. “Kamu tendang-tendang karena marah, ya?

5) Beri anak waktu untuk mengekspresikan emosinya. Tapi tetap tegas untuk tidak melanggar kesepakatan bersama.

6) Bila kita emosi, pisahkan diri dengan tenang. Katakan kita perlu waktu untuk tenangkan diri. 7) Saat kita sudah tenang, lakukan kontak fisik dengan anak. Bila ia menolak, mendekatlah secara fisik.

8) Bahas tingkah laku lain yang bias dilakukan saat ia mengalami emosi yang sama. “Kalau lagi kesal, daripada capek teriak-teriak, kamu bisa bilang kamu nggak suka.”.

9) Setelah marah reda, lakukan langkah menyelesaikan konflik bersama anak.

Selanjutnya panduan baik dalam mengkritik anak yaitu Kritik menjadi pengalaman belajar yang efektif bila disampaikan dengan cara yang tepat pada anak. Disiplin Positif mendukung kritik yang berdampak positif. Cara-cara itu adalah:

  1. Sampaikan spesifik kesalahannya, bukan pada pribadi anak. “Mainanmu berantakan,” bukan “Malas banget, sih, kamu.”.
  2. Dengarkan dan terima perasaan anak. ”Setelah kecapekan main, berat, ya, masih harus merapikan mainan.”.
  3. Gunakan “Seandainya…” atau “Ibu berharap…” untuk menunjukkan efek positif. “Seandainya kamu merapikan mainanmu setiap habis main, pasti lebih gampang carinya pas mau dipakai lagi.”.keluarga
  4. Fokus pada perilaku dan situasi yang bisa diubah, bukan kesalahan. “Kita bisa cari dan pakai kotak sepatu bekas untuk menyimpan balok,” bukan “Kamu selalu menghilangkan pasangan balok.”.
  5. Bantu anak memahami: kesalahan harus diakui, bukan dihindari; bisa diperbaiki, bukan menetap; berguna untuk belajar, bukan merugikan. “Mama dan Bude dulu juga sering berdebat pas mainan hilang. Terus, dihias kotak mainannya. Karena bagus, jadi senang merapikan. Sekarang masih ada tuh mainannya yang disimpan.” Semoga bermanfaat untuk kita semua. (Ali Rohmad, Dosen FKIP UNISKA Kediri)
post-top-smn

Baca berita terkait