Monday, 26 October 2020

Lestarikan Reptil dari Kepunahan

post-top-smn
Maswin bersama Reptil Piaraannya.

Maswin bersama Reptil Piaraannya.

Banyuwangi, SMNSeorang pria asli Kabupaten Jember yang saat ini berdomisili di Banyuwangi dinilai berani karena lebih dari 3 (tiga) tahun setiapharinya bercengkrama dengan mahluk melata “Reptil” yang diketahui sangat ganas dan mematikan, yakni seekor ular sanca macan jenis molurus dirawatnya demi terciptanya pelestarian ekosistem binatang agar terhindar dari kepunahan.

Dikatakan, Windra Agung Wahyudi (40) yang akrab disapa Maswin bertempat tinggal di Jalan Imam Bonjol Kelurahan/Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember ketika ditemui SMN menunjukkan langsung piaraannya yang dinilai telah mengalami kepunahan. Salahsatunya, seekor ular sanca dengan memiliki panjang kuranglebih 3 meter yang dirawatnya sejak 3 tahun lalu. Selain itu, ada 2 jenis binatang musang yang berjumlah 4 ekor. Diantaranya, 3 musang luak dan 1 musang rase.

“Keberadaan kedua hewan ini bisa dikatakan sudah mengalami kelangkaan, karena hampir setiap hari hewan tersebut diburu oleh pemburu diambil dagingnya. Seperti halnya ular sanca ataupun jenis phyton juga mengalami hal yang sama. Kulit ular dibuat sebagai bahan baku dompet, tas, sabuk, sepatu dan bahkan sampai dikirim ekspor hingga keluar negeri. Oleh karena itu, melalui beberapa komunitas reptil lokal ataupun luar daerah akan berkomitmen untuk melestarikan keberadaan hewan itu,” Ungkapnya prihatin.

Menurutnya, pihak pemerintah seharusnya melakukan pembatasan ekspor kulit hingga keluar negeri karena hal ini akan berdampak pada ekosistem dan habitat pada jenis binatang itu sendiri.

“Tak jarang daging binatang buas juga menjadi santapan empuk para pemburu. Padahal, keberadaan ekosistem tersebut sangat mendukung akan cagar alam yang ada di masing – masing daerah. Saya juga pernah merawat ular jenis king cobra, ular welang hitam putih, ular hijau daun dan ular jenis enthong. Namun , keberadaan hewan itu saat ini sudah jarang kita temui jika berburu ke hutan. Walaupun ada jumlahnyapun terbatas karena induknya sudah banyak diburu untuk diambil kulitnya,” Bebernya.(dhi)

post-top-smn

Baca berita terkait