Thursday, 22 October 2020

Kisah Sukses Keluarga Kadarisman Berbisnis Bahan Jamu : Dari Pengalaman Sembuhkan Si Kecil, Kini Jadi Pemasok Bahan Jamu Terkemuka

post-top-smn
kadarisman dan JMJ produksinya kini makin terkenal

Kadarisman dan JMJ produksinya kini makin terkenal

Ngawi, SMN – Sosok sederhana dalam balutan sarung dan kaos lawas itu tampak bersemangat. Satu per satu bakul jamu yang kulakan bahan untuk berjualan, dia layani dengan sabar. Itulah Kadarisman, warga Desa Jogorogo Kecamatan Jogorogo, yang sudah tujuh belas tahun lamanya menggeluti usaha bahan-bahan jamu bermutu tinggi.

Pengalaman mengobati anaknya sendiri, adalah pemantik pasutri Kadarisman dan Arbangiatun, setia dengan jamu dan tanaman obat. Suatu malam yang dingin di tahun 2000 silam, keluarga Kadarisman dilanda panik. Salah satu dari anak mereka mengalami sakit panas yang tinggi dan mengalami stuip (kejang). “Saya terbiasa membawa anak berobat ke dokter, waktu itu malam dan tidak ada dokter jadi saya terpikir untuk mengambil pucuk daun pisang,” ungkap Kadarisman.

Pucuk daun pisang itu dibuat kompres di badan anaknya dan ternyata anaknya sembuh.Itulah pengalaman pertama Kadarisman dan istrinya, Arbangiatun , mengobati sendiri anak-anak dengan tanaman obat. Pengetahuan demi pengetahuan mengenai tanaan obat pun mereka perbanyak dengan membaa berbagai buku dan mendengarkan kisah-kisah lama orangtua. Tanaman obat keluarga juga mulai ditanam di rumah mereka di pinggir jalan poros Jogorogo-Paron. “Tahun 2003-2004 juga mulai booming pengobatan dengan mengkudu untuk darah tinggi, akhirnya kami membuat ramuan mengkudu cair yang tidak berbau jamu dan enak diminum, namanya juice mengkudu jogorogo atau JMJ,” ujarnya.

JMJ ternyata banyak peminatnya. Di samping itu, juga membuat toko bahan jamu di rumah Kadarisman kian terkenal. Kadarisman dan Arbangiatun bahkan mendapatkan order dari sebuah perusahaan kosmetik terkenal untuk memasok bahan baku. Mereka pun mulai menampung jahe merah, kunyit putih, lempuyang, dan berbgai empon-empon untuk disortir dan dikirim ke perusahaan kosmetik tersebut. Hal ini membuka lapangan kerja bagi para wanita di sekitar tempat tinggal mereka. “JMJ juga tidk kami tinggalkan dan sampai sekarang masih kami produksi, rata-rata dalam dua minggu saja pasti habis,” ujarnya.

Saat ini berbagai bahan baku jamu, JMJ, jamu siap seduh, kayu manis, jati belanda dan rimpang empon-empon tersedia di tempat Kadarisman. Mereka juga tidak pelit ilmu untuk berbagai pengetahuan mengenai khasiat jamu sesuai pengalaman mereka. “Tanaman obat atau jamu sebenarnya wajib dikembangkan di setiap keluarga, untuk menjaga kesehatan juga mengatasi keluhan kesehatan yang mendadak,” ujar Kadarisman. (ari)

post-top-smn

Baca berita terkait