Saturday, 26 September 2020

Jahe Gajah Dalam Program Agroforestry Kabupaten Kediri

post-top-smn
Jahe Gajah yang baru dipanen

Jahe Gajah yang baru dipanen

Kediri, SMN – Pertanian di Kabupaten Kediri memiliki lahan yang subur, yang bisa ditanami banyak jenis tanaman. Salah satunya adalah Jahe Gajah, yang tergolong susah untuk ditanam karena harus menyesuaikan dengan kondisi dan kontur tanah.

Oleh karena itu Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kediri mencoba untuk mengembangkan Jahe Gajah, dengan program Agroforestry. Secara mudah, Agroforestry dapat diartikan sebagai kegiatan yang memadukan antara pengelolaan hutan dengan penanaman komoditas seperti tanaman pertanian.

Program Agroforestry Kabupaten Kediri ini berawal pada tahun 2015 silam, dengan penanaman Jahe Gajah pada Desember 2015. Saat ini Jahe Gajah tersebut sudah memasuki masa panen, yang dimulai pada hari Kamis 1 September 2016.

Lahan yang digunakan berada di Desa Kebonrejo di wilayah Kecamatan Kepung. Lahan yang digunakan untuk Jahe Gajah ini dalam kisaran 4000 m². Dinas Kehutanan dan Perkebunan bekerjasama dengan Kelompok Tani Bongkoran Lestari.

Pada 2 hari pertama panen, para anggota Kelompok Tani Bongkoran Lestari berhasil memanen 645 kg Jahe Gajah pada hari pertama dan 515 kg pada hari kedua. Jika dijual, harga per kilogram Jahe Gajah mampu menembus angka Rp 2.500,- per kg.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kediri Sugeng Waluyo, SP, MM menyatakan bahwa Program Agroforestry ini memiliki 2 tujuan utama yang terdapat dalam 1 program, yakni Produktif dan Protektif.

“Tujuan yang pertama yakni Produktif, supaya dapat meningkatkan penghasilan tambahan. Kemudian tujuan yang kedua yakni Protektif adalah sebagai konservasi dan rehabilitasi lahan. Agar tanah tidak mengalami Erosi.” Kata Sugeng Waluyo kepada Tim Kominfo Senin (5/9).

Selain di Desa Kebonrejo Kecamatan Kepung, program Agroforestry ini juga dilaksanakan di Dusun Geneng dan Dusun Sagi Desa Tarokan Kecamatan Tarokan, dengan pemanfaatan lahan ditanami Kunyit masing-masing seluas 10 ha.

Dipilihnya Kunyit tentu bukan tanpa alasan. Wilayah Desa Tarokan Kecamatan Tarokan tanahnya lebih cocok ditanami Kunyit. Jika dijual dalam Kunyit Basah, mampu menembus harga Rp 4.000,- per kg. Sedangkan jika Kunyit dijual dalam kondisi Rajang Kering harganya bisa mencapai Rp 16.000,- per kg. (Kom)

post-top-smn

Baca berita terkait