Sunday, 20 September 2020

Hutbun Dorong Produksi Tembaku Berkualitas

post-top-smn
Mujiono, Kabid Perkebunan Dinhutbun Ngawi

Mujiono, Kabid Perkebunan Dinhutbun Ngawi

Ngawi, SMN – Menghasilkan tembakau berkualitas harus menjadi prioritas petani, agar hasil produksi tembakau mereka dapat diterima pasar. Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dinhutbun) Kabupaten Ngawi pun berusaha mendorong hal itu dengan berbagai program dan kegiatan. “Kami berusaha membantu agar petani tembakau di Ngawi dapat memenuhi standar kualitas yang diminta pasar,” ujar Mujiono, Kepala Bidang Perkebunan Dinhutbun Ngawi.

Tahun ini ada Rp 4,6 M dana bagi hasil cukai hasil tembakau yang terkucur ke Bidang Perkebunan. Diantara pemanfaatannya untuk program intensifikasi pertanian tembakau yang dilakukan pda 26 kelompok tani, diwujudkan dengan pemberian bantuan pupuk NPK, ZK, pestisida, handsprayer dan pompa air pada kelompok petani tembakau.

Selain itu juga diberikan bantuan sarana pra sarana berupa pembuatan 2 buah sumur dangkal di Desa Wonokerto, Kecamatan Kedunggalar dan Desa Kersikan Kecamatan Geneng. Dinhutbun Ngawi juga membuat tiga buah sumur air dalam yang ditempatkan di Desa Bangunrejo Kidul dan Desa Gemarang di Kecamatan Kedunggalar serta Desa Rejomulyo Kecamatan Karangjati. “Kita juga berikan bantuan handtractor untk 36 kelompok tani tembakau di Ngawi,” kata Mujiono.

Sampai tahun 2016, hasil produksi tembakau di Ngawi menunjukkan grafik yang kian menurun. Tahun 2014 misalnya, realisasi pertanian tembakau mencapai 2.300 hektar, tahun 2015 menjadi 1.850 hektar dan target tahun 2016 menurun lagi menjadi hanya 1.664 hektar. “Namun dari target tersebut terealisasi 1.640 hektar lahan tembakau di tahun 2016 ini. Sayangnya hanya 622 hektar yang bisa panen, karena anomali iklim dan cuaca,” ungkap Mujiono.

Dinhutbun Ngawi gencar mendorong petani meningkatkan kualitas tembakau yang dihasilkan, diantaranya agar tembakau bisa rendah kandungan tar dan nikotin, sesuai syarat ambang yang ditentukan pabrik. Berdasar kajian dari Balai Penelitian Tembakau dan Serat (Balitas) Malang, untuk menekan kandungan tar dan nikotin, perlu perlakukan khusus pada tanaman diantaranya dengan memberikan pupuk yang tidak mengandung chlor. Hal itu berarti juga bertolak belakang dengan kebiasaan petani yang selama ini memberikan urea, NPK dan Ponska pada tembakau, laiknya pada tanaman padi. “Pupuknya ZK dan NPK free chlor, dan kami adakan pembinaan terus karena tak mudah mengubah pola kebiasaan petani tembakau di Ngawi ini,” kata Mujiono.

Kelompok tani tembakau di Ngawi tersebar di daerah Ngawi timur seperti Bringin, Karangjati dan sebagian Kasreman dan Pangkur. Selain itu juga ada di daerah Paron dan Kedunggalar. Dari sekitar 1.117 kelompok tani di Ngawi, 300 lebih adalah kelompok tani tembakau dan 84 diantaranya telah bermitra dengan perusahaan pemasok tembakau ke pabrik. “Penting untuk mendorong petani tembakau di Ngawi mengerti standarisasi bahan baku tembakau ini, makanya Dinhutbun mengarahkan penggunaan DBHCHT untuk mningkatkan mutu tembakau yang dihasilkan,” pungkas Mujiono. (ari)

post-top-smn

Baca berita terkait