Saturday, 31 October 2020

Harga Gabah Kering Panen Anjlok, Akibat Cuaca Buruk

post-top-smn

Petani Lumajang, SMN – Musim panen kali ini banyak membuat para petani gigit jari. Pasalnya cuaca yang buruk menjadikan hasil panen tidak maksimal.

Hujan lebat dan angin kencang yang hampir terjadi setiap hari berdampak pada kualitas panen. Akibatnya,  harga gabah kering panen menjadi anjlok.

Seperti informasi yang berhasil dihimpun media massa, harga gabah kering panen musim ini berada di angka Rp 3.600 perkilogram. Atau turun dari harga yang sudah ditetapkan nasional, yakni Rp 4.200 perkilogram.

Kondisi seperti ini juga diperparah karena tidak semua padi yang ditanam berhasil dipanen. Karena ada sejumlah bagian yang memang tidak bisa dipanen karena kondisinya sudah tidak memungkinkan.

Meksi tidak merugi, tidak  maksimalnya hasil panen kali ini jelas tidak menguntungkan bagi petani. Karena ada perbedaan perolehan dari panen sebelumnya yang cukup signifikan.

“Berbeda dengan tahun sebelumnya keuntungannya,” kata salah satu petani di Sukodono, Nawari.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Lumajang, Ir. Paiman saat dikonfirmasi juga membenarkan adanya kondisi seperti ini.

Dari hasil pantauan pihaknya, harga gabah kering saat ini di kisaran Rp 3.600 perkilogram sampai Rp 4.000 perkilogram.

“Kalau harga nasional sampai Rp 4.200 perkilogram,” katanya saat dihubungi media.

Musim kali ini, kata Paiman memang menjadi perhatian khusus dari pihaknya. Karena hujan lebat dan angin kencang hampir terjadi setiap hari.

Untuk itu, Dinas Pertanian sudah mengambil langkah dengan memaksimalkan  para penyuluh dan UPT (Unit Pelayanan Teknis) yang tersebar di semua kecamatan.

“Caranya bisa melakukan pemotongan leher padi atau membasmi wereng yang marak,” ucapnya.

Namun  untuk prosentase berapa jumlah lahan yang sudah terdampak adanya cuaca buruk ini, Paiman masih belum bisa menyebutkan. Pasalnya pendataan saat ini masih terus dilakukan dan hasilnya juga akan dilaporkan ke pusat.

Paiman  menjelaskan, kondisi cuaca yang buruk ini juga berdampak pada buruknya kualitas panen dikarenakan  terkadang banyak lahan yang tergenang air hujan terlalu lama. Sehingga wereng mudah menyerang.

“Antisipasinya dengan memberikan obat anti wereng,” ujarnya.

Sementara untuk lahan  yang sudah memiliki asuransi masih bisa diklaimkan jika benar-benar tidak bisa dipanen  pada musim ini. Ia menegaskan, jika 70 persen  lahan  tidak bisa dipanen, agar dilaporkan dan nantinya akan diteruskan ke pusat.

“70 persen lahan yang tidak bisa dipertahankan harus dilaporkan,” terangnya.

Selain padi, kata Paiman, masih banyak komoditi lainnya juga ada yang mengalami   nasib serupa. Seperti halnya lombok,  pepaya, sengon,  dan juga kelapa. Banyak yang rusak atau roboh sehingga hasilnya tidak bisa dijual atau dinikmati sendiri.

“Di lahan perkebuann seperti kelapa dan pepaya juga banyak  yang terdampak,” tegasnya.

Terakhir, untuk menekan hal serupa tidak terjadi pada panen mendatang, Paiman menghimbau kepada petani agar tidak tergesa-gesa melakukan tanam.

“Jangan tanam cepat dan panen cepat. Kita tunggu dulu cuacanya membaik,” pungkasnya. (atk)

post-top-smn

Baca berita terkait