Thursday, 22 October 2020

Harga Gabah Anjlok, Petani di Ngawi Menjerit

post-top-smn
panen saat musim  hujan membuat  harga gabah di Ngawi turun drastis

Panen saat musim hujan membuat harga gabah di Ngawi turun drastis

Ngawi, SMN – Petani padi di Ngawi menjerit. Ini karena harga jual gabah yang anjlok saat ini bahkan mencapai titik nadir. Hujan yang sering turun dengan curahnya yang tinggi juga membuat petani kesulitan mengeringkan gabahnya, sehingga harga jual semakin rendah, “Masak sekilo gabah hanya dihargai Rp 2.800,” kata Suwardi, petani asal Desa Pangkur Kecamatan Pangkur.

Harga jual gabah yang turun drastis ini menjadikan sebagian besar petani di Ngawi merasa frustasi. Banyak sawah yang usai dipanen tak kunjung ditanami kembali karena masih was-was saat panen harganya masih rendah. “Sangat merugikan, ibaratnya kami ini sudah banyak kehilangan modal untuk bibit, tenaga dan pupuk, tetapi harga gabah sangat rendah,” ungkapnya.
Perhatian terhadap keluhan petani ini juga menarik minat Dirjen Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto. Gatot meminta Bulog khususnya Sub Divre IV Madiun turun tangan dengan memberikan pembelian gabah dengan harga yang pantas terhadap hasil padi petani. Hal ini dikemukakan Gatot saat melaksanakan pencanangan percepatan tanam di Desa Gemarang Kecamatan Kedunggalar, Selasa (21/2) lalu. Harga gabah petani yang hanya berkisar Rp 2.800 sampai Rp 3 ribu per kilogram benar-benar membuatnya prihatin. “Bulog harus turun tangan menyerap gabah petani kita, jangan hanya berkilah atas mutu kekeringan gabahnya,” ungkapnya.
Standar bulog untuk menerima gabah dari petani selama ini memang dikeluhkan. Dengan standar tinggi yang dipasang Bulog petani merasa kesulitan karena curah hujan tinggi sehingga tak bisa menjemur hasil panennya dengan baik. “Masalahnya kami sendiri memang dibatasi karena adanya standar kekeringan gabah yang ditentukan pemerintah,” ungkap Antok Hendriyanto, Kepala Bulog Sub Divre IV Madiun. (ari)
post-top-smn

Baca berita terkait