Sunday, 29 November 2020

Hardiknas 2017, Pemerintah Percepat Pendidikan Merata dan Berkualitas

post-top-smn

hardiknas

Surabaya, SMN – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2017 yang jatuh pada hari ini, Selasa (2/5) bertema “Percepat pendidikan yang merata dan berkualitas”. Tema tersebut terkait erat dengan paradigma hidup yang berubah cepat dan menuntut kualitas semakin tinggi.

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, saat membacakan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, menyampaikan bahwa peran aktif pelaku pendidikan mutlak diperlukan demi tercapainya cita-cita bangsa agar Indonesia menjadi unggul dalam ilmu pengetahuan.

“Izinkan saya menyampaikan apresiasi pada semua pihak, pada semua pelaku pendidikan dimanapun berada, yang telah ambil peran aktif untuk mencerdaskan saudara sebangsa,” kata Gubernur saat menjadi inspektur upacara peringatan HPN Jawa Timur, di Gedung Negara Grahadi, Selasa (2/5) pagi.

Melalui momentum peringatan Hardiknas, lanjut Gubernur, ia mengajak masyraakat untuk meresapi dan merenungi tema tersebut. “Kita wujudkan bersama sama. dengan begitu maka seluruh lapisan masyarakat akan dapat menjangkau layanan pendidikan yang berkualitas,” ujarnya.

Dengan pendidikan berkualitas yang merata, maka ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 diharapkan dapat terwujud.

“Atas nama pemerintah, izinkan saya menyampaikan penghargaan dan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh insan pendidikan di tanah air. Mereka adalah yang telah mengabdi dan berkorban demi kemajuan pendidikan,” tuturnya.

Dikatakan Gubernur, pengabdian dan pengorbanan yang sudah diberikan, sejauh ini telah membuahkan hasil yang menggembirakan. Sekalipun di sana-sini masih banyak masalah dan menimbulkan ketidakpuasan.

“Semoga keberhasilan tersebut semakin memacu semangat dan usaha keras kita. Untuk masalah yang belum terselesaikan dan ketidakpuasan yang ada, justru semakin melipat-gandakan energi, kehendak, dan ikhtiar kita untuk menemukan terobosan-terobosan baru,” ucapnya.

Ki Hajar Dewantara
HPN kali ini, Pakde mengajak, agar insan pendidikan tak pernah lupa dengan sosok Ki Hadjar Dewantara. Sebab peringatan hari pendidikan nasional didasarkan atas hari kelahirannya.

“Beliau dilahirkan tanggal 2 Mei 1889. Beliau sudah disepakati sebagai bapak Pendidikan Nasional. Dengan tanpa bermaksud mengecilkan peran para tokoh pendidikan yang lain, peran Ki Hadjar dewantara pada awal perintisan pendidikan nasional memang sangat besar. baik berupa gagasan, pemikiran, maupun terawang masa depan. oleh sebab itulah gagasan dan pemikiran beliau tetap relevan dan menjadi acuan bagi pembangunan pendidikan nasional kita,” katanya.

Beberapa di antara pandangan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah: (1) “panca dharma” yaitu bahwa pendidikan perlu beralaskan lima dasar yaitu kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. (2) “kon-3” yaitu bahwa penyelengaraan pendidikan harus berdasarkan asas kontinuitas, konvergensi, dan konsentris, dalam arti pendidikan perlu berkelanjutan, terpadu, dan berakar di bumi tempat dilangsungkannya proses pendidikan. (3) “tri-pusat pendidikan” bahwa pendidikan hendaklah berlangsung di tiga lingkungan, yang kita kenal dengan nama tripusat, yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang saling berhubungan simbiosis dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Ki Hadjar Dewantara mengajukan konsep “laku telu” atau tiga peran yang dirumuskan dalam frasa bahasa jawa: “ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani” yang artinya apabila di depan memberi teladan, apabila di tengah memberi ilham (inspirasi) dan apabila di belakang memberi dorongan. Ketiga peran tersebut harus dilaksanakan secara seksama baik bergantian maupun serempak dalam tampilan sosok pemimpin pendidikan yang utuh.

“Di sinilah kita diingatkan untuk tidak memenggal dan menerapkan sepenggal-sepenggal tiga laku kepemimpinan dalam praksis pendidikan Ki Hadjar Dewantara,” ujarnya.

Menurutnya, konsep “laku telu” ini perlu dihayati kembali oleh para pendidik, pada saat mana dunia pendidikan mengalami krisis keteladanan dan praktik pendidikan tidak lagi menginspirasi. Sementara dorongan dari arah belakang dari kepemimpinan pendidikan tidak disertai pemberian arah dan haluan untuk peserta didiknya.

Gagasan pemikiran dan prinsip-prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara tersebut, kini menjadi dasar acuan visi Presiden RI, Joko Widodo di bidang pendidikan. Dalam visi Presiden, masa depan Indonesia adalah sangat ditentukan oleh generasi peserta didik masa kini yang memiliki karakter atau budi pekerti yang kuat, serta menguasai berbagai bidang ketrampilan hidup, vokasi dan profesi abad 21.

Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, kementerian pendidikan dan kebudayaan bersiap melakukan reformasi pendidikan nasional baik pada tataran konseptual maupun manajerial. Dalam tatanan konseptual, sedang diupayakan agar karakter kembali menjadi fundasi dan ruh pendidikan nasional. untuk itu pembentukan karakter harus dimulai dan menjadi prioritas pada jenjang pendidikan dasar (basic education).

Untuk jenjang pendidikan lebih lanjut harus kondusif bagi peserta didik membekali dirinya dengan keterampilan dan keahlian yang berdaya kompetisi tinggi, yang dibutuhkan dunia abad 21. “Hanya dengan karakter yang kuat dan kemampuan berdaya saing tinggi lah peserta didik masa kini akan sanggup membawa bangsa Indonesia berdiri dengan tegak di antara bangsa-bangsa maju lain,” ujarnya.(her/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait