Monday, 17 May 2021

Diskusi Managemen Laktasi Untuk Petugas Puskesmas Tentang Fasilitas Pelayanan Kesehatan

post-top-smn

 

dr. Rosyidah kabid kesmas, dan Irma R, kasie propemas.

 

LUMAJANG, SMN –  Dinkes menggelar acara diskusi dan tanya jawab management Laktasi, di Aula Pisang Barlin pada Senin,  (6/7) lalu.

Pada acara tersebut, dilaksanakan oleh Bidang Kesehatan Masyarakat Seksi Promosi dan Pemberdayaan Kesehatan, Dinkes Lumajang.

Acara ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan informasi bagi peserta, tentang managemen laktasi, memotivasi peserta untuk mendukung keberhasilan dalam pemberian ASI ekslusif, meningkatkan kemampuan peserta dalam hal konseling, menyusui, serta keterampilan berkomunikasi khususnya komunikasi dalam memberikan edukasi menyusui bagi masyarakat

“Kegiatan yang kami lakukan ini menggunakan  metode presentasi, tanya jawab dan diskusi antar peserta kegiatan”, ujar dr. Rosyidah.

Dengan diadakan kegiatan tersebut, panitia  berharap,  Peserta mampu untuk memahami informasi terkait laktasi, memotivasi untuk terlibat aktif dalam mendukung keberhasilan pemberian ASI ekseklusif bagi bayi, melaksanakan demo konseling menyusui dengan keterampilan berkomunikasi yang efektif dalam mengedukasi menyusui bagi masyarakat.

Kepala Seksi Propemas, Irma Rokhmania, S.si, menjelaskan, bahwa target RTH tahun 2017 sebesar 56%, sementara capaian RT 5 sebesar 31,77% (kategori tidak sehat). Indikator ketidak berhasilan ada 3 yakni masih ada anggota keluarga yang merokok, pemberian ASI ekseklusif pada bayi yang rendah, dan pertolongan persalinan belum 100% di Fasyankes”, ungkapnya.

Selanjutnya, terkait  dengan ASI, Irma menjelaskan,  bahwa pemberian ASI ekseklusif pada bayi sangat rendah, hal itu disebabkan oleh kurangnya dukungan ibu untuk memberikan ASI pada bayinya.

Karena itu, managemen Laktasi hadir sebagai upaya untuk mengatur, agar keseluruhan proses menyusui bisa berjalan sukses, mulai dari ASI yang diproduksi sampai proses bayi menghisap, dan menahan ASI pada masa antenatal, perinatal hingga pasca melahirkan.

Menurut Irma, hal itu dibutuhkan para petugas puskesmas (PPD, Petugas Promkes) untuk memberikan pemahaman mengenai managemen Laktasi bagi Ibu menyusui maupun ibu hamil.

“Penerapan PHBS di masyarakat dilaksanakan pada tatanan paling kecil, yaitu tatanan keluarga. Keluarga menjadi agen perubahan perilaku yang diharapkan mampu secara mandiri, mengatasi berbagai masalah kesehatan, salah satunya melakukan pengembangan PHBS di rumah tangga, minimal dikeluarganya sendiri,” pungkasnya. (Atk)

post-top-smn

Baca berita terkait