Wednesday, 21 October 2020

Bude Karwo : PKK Jatim Proaktif Cari Solusi Korban Narkoba

post-top-smn
Ketua Tim Penggerak PKK Prov Jatim Nina Soekarwo buka orientasi upaya pencegahan kejahatan seksual terhadap anak dan sosialisasi pola asuh anak dan remaja dalam keluarga

Ketua Tim Penggerak PKK Prov Jatim Nina Soekarwo buka orientasi upaya pencegahan kejahatan seksual terhadap anak dan sosialisasi pola asuh anak dan remaja dalam keluarga

Surabaya, SMN – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga atau lebih dikenal sebagai PKK Provinsi Jawa Timur  menjadikan penanganan korban narkoba sebagai program unggulannya. Pemilihan program tsb sebagai prioritas atas pertimbangan jumlah korban yang begitu besar.

Hal itu dsampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Jatim Dra Hj Nina Soekarwo, MSi di depan Ketua Pokja I Tim Penggerak PKK Kabupaten/ Kota se Jatim, pada acara Sosialisasi Pola Asuh Anak dan Remaja, di ruang rapat Lantai III Badan Pendapatan Provinsi Jatim Jl Manyar Kertoarjo no 1 Surabaya, Senin (13/3).

“Kita miris (ngeri) melihat jumlah korban narkoba. Jatim menempati peringkat dua setelah DKI, ujar Bude Karwo-sapaan akrab Hj. Nina Soekarwo. Jumlah korban narkoba di Jatim yang direhabilitasi, jelas Bude Karwo, tahun 2015 sebanyak 5.855 anak, sebuah jumlah yang bukan sedikit untuk keberlanjutan generasi muda. Dari angka tersebut, justru pelajar atau usia produktif  menduduki tempat paling banyak menjadi korban narkoba, yakni. laki-laki 4.915 anak dan perempuan 940 anak.

Ditambahkan, jumlah korban terbanyak pada kelompok usia 15-19 tahun, yaitu 2.151 orang dan kelompok usia 20  24 tahun sebanyak 1.103 orang. Sedangkan dari tingkat pendidikan, korban terbanyak adalah siswa SMP sebanyak 2.749 orang dan  SMA sebanyak 1.997 orang, selanjutnya diikuti karyawan swasta 1.553 orang, dan wiraswasta 1.416 orang.

Dalam kesempatan sama, Bude Karwo juga menyampaikan berbagai permasalahan saat ini yang semakin kompleks, mulai kejahatan seksual terhadap anak sampai penyalahgunaan narkotika  dan obat terlarang di kalangan generasi muda. Diingatkan, pentingnya perkembangan generasi muda bisa dilihat sejak usia dini. Sejak dalam kandungan 1000 hari pertama kehidupan sangat penting, dan hal itu membentuk sampai golden age . Unicef menyebutkan anak usia 0-8 tahun tidak boleh diabaikan karena menyangkut  sebagai kado Indonesia merdeka 2045. Bonus demografi berbalik akan gagal dan bisa menjadi bencana, kalau tidak diperhatikan.

“Oleh karena itu, kita harus mewaspadai perkembangan anak-anak, dimulai dari keluarga masing-masing dan lingkungan dasa wima PKK,” ujarnya.Oleh karena itu, dukungan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten/ Kota terhadap program penanganan pola asuhini sangat penting, tentunya bersinergi dengan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten/ Kota masing-masing.

Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo menyampaikan salam terima kasih dan apresiasi kepada Ibu-ibu Tim penggerak PKK yang membantu Pemprov Jatim di Grass root langsung terjun ke masyarakat, ujarnya.

Bude Karwo menyadari, anak/ remaja merupakan generasi penerus bangsa yang perlu mendapatkan perhatian serius karena disamping memiliki potensi yang besar. Masa remaja juga merupakan mata rantai yang paling rapuh  dalam fase kehidupan manusia.

Saya mengajak para orang tua untuk mendidik putera-puterinya dengan baik, sekaligus memberikan proteksi yang aman. Karena anak  sejak lahir sebenarnya sudah memiliki berbagai potensi yang dikaruniai Tuhan. Potensi tersebut di stimulasi / dirangsang dan difasilitasi agar dapat berkembang dengan optimal. Dengan stimulasi yang tepat akan menyebabkan fungsi mental anak-anak untuk memahami dan mengerti kondisi lingkungannya, tambahnya.

Banyak ahli, lanjutnya, menyatakan bahwa masa anak-anak dan remaja merupakan masa peka dan sangat penting bagi perkembangan masa depannya. Dengan demikian, stimulasi terhadap  anak dan remaja yang dilakukan oleh para orang tua maupun orang lain disekitar lingkungan anak akan membekas kuat dan tahan lama.

Pada akhir sambutan, Bude Karwo menegaskan makna program unggulan pola asuh. Selain anak harus mendapatkan kebutuhan esensial anak pada saat usia dini secara holistik, juga harus integratif. Artinya, memperoleh stimulasi pendidikan,  gizi, child protection, parenting education. Dengan demikian, anak tidak mudah terpengaruh oleh narkoba.

post-top-smn

Baca berita terkait