Friday, 4 December 2020

Budaya Sebagai Ruh Penguat Persatuan dan Kesatuan Bangsa

post-top-smn

Bupati Ponorogo H.Ipong Muchlissoni bersama Menteri desa PDTT Eko Putro Sandjojo buka Grebeg Sura 2016

Bupati Ponorogo H.Ipong Muchlissoni saat memberikan sambutan

Bupati Ponorogo H.Ipong Muchlissoni saat memberikan sambutan

Ponorogo, SMN – Ponorogo merupakan salah satu daerah yang mempunyai khas budaya Reyog dan grebeg sura atau masa penyambutan menjelang datangnya tahun baru islam yang tersohor bukan hanya di Indonesia saja bahkan sampai ke manca negara. Karena uniknya, budaya ini tak dimiliki oleh daerah lain bahkan negara mana saja. Pun daerah ini sering menjadi sasaran kunker pejabat pemerintah pusat. Pasalnya dalam grebeg sura dan festifal nasional reyog Ponorogo (FNRP) tahun 2016 ini dibuka oleh menteri desa pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi (MenDesPDTT) Eko Putro Sandjojo bersama bupati Ponorogo H.Ipong Muchlissoni yang dihadiri MenDes PDTT Eko Putro Sandjojo, sekjen kemendes dan dirjen kemendes, bupati Ponorogo H.Ipong Muchlissoni,wakil gubernur Jawa timur SyaifullahYusuf, Forpimda,Forpimka,bupati daerah tetangga dan segenap undangan serta masyarakat Ponorogo yang hadir,bertempat di panggung utama Aloon-Aloon Ponorogo pada hari Minggu (25/9) kemarin.

Dalam sambutannya, MenDes PDTT yang asli Ponorogo Eko Putro Sandjojo mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada bupati Ponorogo H.Ipong Muchlissoni dan seluruh masyarakat Ponorogo yang telah menerima kehadirannya serta dinobatkannya dia sebagai warok kehormatan oleh sesepuh warok Ponorogo dan tak lupa mengacungi jempol untuk Ponorogo sebagai penyumbang devisa nomer tiga dengan kebudayaannya setelah migas. Menurut Eko Sandjojo, reyog merupakan satu kesenian lokal yang bisa menjadi kebanggaan nasional bahkan mendunia. Kebudayaan adiluhung itu patut dirawat, sebab sebuah kebudayaan merupakan ciri peradaban manusia.“Kebudayaan yang menjadi peneguh peradaban mampu menjadi faktor yang berperan dalam meningkatkan arus perekonomian suatu masyarakat,” ucap menteri yang tampil sederhana ini.Misalnya saja, ucap Eko Sandjojo lebih lanjut, reyog bisa berperan dalam memberikan sumbangan pemasukan daerah, yang tentu saja ikut berperan dalam perputaran ekonomi masyarakat desa dari sisi kerajinan, kuliner dan industri lain yang dihasilkan desa.

Pihaknya juga membeberkan, terkait penggelontoran ADD 74.754 desa dari pemerintah pusat hingga tahun 2019 mendatang, pada tahun 2016 sebesar 46,8 triliun, tahun 2017 naik menjadi 70 triliun,tahun 2018 naik menjadi 103 triliun dan tahun 2019 naik menjadi 111 triliun. Untuk tahun 2016 ini totalnya hampir 47 triliun.”Artinya setiap desa akan mendapatkan dana antara 600 sampai dengan700jt. Sedangkan Add dari pemerintah Ponorogo ke desa 800 juta sampai dengan 1,6 miliar,”bebernya. Menurutnya, dana desa awalnya memang digunakan untuk pembangunan infrastruktur, namun untuk saat ini bisa dipakai untuk pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pembentukan badan usaha desa (BumDes) dan koperasi. Sesuai dengan instruksi presiden ( InPres) tujuh belas kementerian harus bersama-sama konsentrasi ikut membangun desa.”Desa yang maju pada umumnya fokus pada keunggulan tertentu, dengan demikian desa tersebut memenuhi skala ekonomi yang cukup,sehingga dapat menyebabkan biaya lebih murah,harga panen juga mahal karena pemerintah akan menerima hasil panen.Ini yang untuk pertanian,” urainya. “Untuk Pariwisata, homstay juga bisa diberikan pinjaman BumDes 5jt, karena dengan adanya banyak homstay maka daerah itu akan menjadi desa wisata, namun kreatifitas kepala desa juga diharapkan,” Pungkas Eko.

MenDes PDTT Eko Putro Sandjojo saat dikukuhkan gelar warok kehormatan didampingi oleh Bupati Ponoroogo  H.Ipong Muchlissoni dan forpimda

MenDes PDTT Eko Putro Sandjojo saat dikukuhkan gelar warok kehormatan didampingi oleh Bupati Ponoroogo H.Ipong Muchlissoni dan forpimda

Sementara itu bupati Ponorogo H.Ipong Muchlissoni mengemukakan, pihaknya merasa gembira grebeg sura ini dihadiri oleh pejabat pemerintah pusat dan pejabat propinsi Jawa timur serta rangkaian dihelatnya kegiatan ini juga banyak ditampilkan lomba-lomba kesenian budaya Ponorogo yang diikuti oleh generasi-generasi muda penerus bangsa sekelas SD,SMP,SMA. ”Budaya sebagai ruh penguat persatuan dan kesatuan bangsa, oleh karena itu tema grebeg sura tahun 2016 ini,” Perayaan grebeg Sura dan FNRP XXIII sebagai wujud kebersamaan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan mengembangkan potensi wisata budaya menuju Ponorogo lebih maju berbudaya dan religius,” tuturnya. Ipong juga menjelaskan rangkaian acara mulai awal grebeg bedol pusaka, jamasan,tumpeng purak sampai larung sesaji di Ngebel,”Untuk even ini dibuat berbeda dengan tahun sebelumnya supaya bisa lebih syakral, khidmat dan merakyat karena pada dasarnya pesta grebeg Sura ini pesta untuk rakyat Ponorogo, dan saya berharap,” Kedepan pengembangan pariwisatanya lebih mendunia lagi sehingga menarik banyak wisatawan baik dari lokal maupun manca negara,” Harap Ipong.

Lebih lanjut,wakil gubernur Jawa timur Syaifullah Yusuf mengatakan,”Budaya ini merupakan bentuk uri-uri budaya leluhur, merupakan sesuatu milik kita yang sangat berharga dan tidak dimiliki Negara lain, bisa disebut ilmu kuno,” ujarnya. Wagub yang akrab dipanggil dengan Gus Ipul itu juga menjelaskan, Dalam perhelatan ini ada beberapa dimensi diantaranya spiritual termasuk tirakat atau puasa, Kultural berdaulat politik,mandiri secara ekonomi, berkepribadian Indonesia dalam membentuk jati diri kita, dimensi sosial yaitu kumpul guyub rukun, ekonomi, bazaar dan kuliner.”Kita harus bersyukur karena ada umkm dan koperasi di Jawa timur jumlahnya berkisar angka 6,8 jt yang dapat menyerap 95% tenaga kerja di Jawa timur.” Kita harus menang dalam era ekonomi liberal seperti sekarang ini,” Harap Gus Ipul.,” Perhelatan grebeg Sura seperti di Ponorogo ini perputaran ekonomi masyarakat juga berjalan lumayan karena perputaran uang tidak kemana-mana hanya disekitaran Ponorogo saja, dan kita mendukung sepenuhnya Reyog Ponorogo sebagai warisan dunia seperti wayang dan batik yang tercatat di Unesco.” Tutup Gus Ipul. (Wied/adv/hms)

post-top-smn

Baca berita terkait