Saturday, 21 September 2019

Wagub Jatim: Millenial Job Center Solusi Era Digital

post-top-smn

Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak memberikan arahan dihadapan seluruh siswa pada acara Sosialisasi Millenial Job Center di SMKN 5 Bojonegoro.

Surabaya, suaramedianasional.co.id – Perkembangan teknologi informasi menyebabkan munculnya banyak pekerjaan-pekerjaan baru, terutama yang berkaitan dengan digital seperti web designer, digital marketing, operator drone, dll. Profesi-profesi tersebut berbeda dengan konsep pegawai tetap yang terbatas dan terikat di suatu tempat atau satu perusahaan. Mereka lebih sering menjadi pegawai freelance ketika ada proyek.

“Inilah yang sebenarnya kita maksud dengan profesi era milenial, muncul profesi baru yang bisa dilakukan karena teknologi berkembang. Untuk itu Pemprov Jatim akan mengembangkan Millenial Job Center sebagai solusi terhadap hal ini,” kata Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak saat acara Sosialisasi Millenial Job Center di SMK Negeri 5 Bojonegoro, Selasa (19/2) sore.

Emil, begitu ia akrab disapa mencontohkan, dulu orang masih mengandalkan surat kabar untuk beriklan, namun saat ini berkembang digital marketing sehingga orang bisa memasarkan produknya hanya melalui media sosial seperti Instagram. Bahkan di Amerika kurang lebih 30% dari tenaga kerja bekerja dengan konsep freelance.  Para freelance ini bisa mengerjakan beberapa proyek dari perusahaan-perusahaan yang membutuhkan jasanya.

Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak meninjau pameran dari karya para siswa pada acara Sosialisasi Millenial Job Center di SMKN 5 Bojonegoro.

“Jadi ketika ada proyek muncul, maka kita tidak mencari kerja, kita tidak mencari perusahaan, tapi yang dicari adalah klien. Model seperti ini sering disebut ‘Gig Economy’ atau ekonomi manggung, jadi seperti anak band, dia dibayar di banyak tempat ketika dia manggung atau bekerja,” jelasnya.

Istilah Gig Economy ini membuat orang yang semakin banyak pengalaman dan semakin baik pekerjaannya, tarif atau penghasilannya lebih tinggi. Istilah ini juga sering disebut dengan ekonomi makro yang sudah berkembang di luar negeri dengan segala pro kontranya karena dianggap tidak adil bagi pegawai tetap.

Untuk itu, lanjutnya, kehadiran Millenial Job Center memberikan dua manfaat sekaligus. Pertama, kepada anak-anak muda yang ingin mengembangkan karir di bidang yang sudah diminati seperti web design, fotografi, operator drone, promosi digital media sosial dll. Melalui Millenial Job Center, minat itu bisa tersalurkan dan dikembangkan menjadi sebuah karier.

“Jadi bukan nyari kerja, tapi dicarikan klien, karena kan masih awal pasti susah mendapat klien yang percaya, kadang dibayar gratis belum tentu ada yang mau kan? Jadi melalui Millenial Job Center kami akan carikan klien,” kata mantan Bupati Trenggalek ini.

Tidak hanya itu, dalam Millenial Job Center juga akan ada mentor yang sudah pengalaman dengan bidangnya. Mentor ini yang kemudian akan memberikan masukan dan bimbingan supaya lebih baik.

“Disinilah konsepnya ada yang mencari atau membutuhkan jasanya, ada yang punya bakat dan mau mengembangkan ilmunya, serta ada mentornya. Ketiga hal ini ketemu dalam milenial job center,” jelasnya.

Kedua, melalui Millenial Job Center ini maka akan membantu meningkatkan jumlah wirausaha di masyarakat. Dengan munculnya para wirausaha baru mereka dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan mengurangi jumlah pengangguran di masyarakat.

Ditambahkannya, dipilihnya Kab. Bojonegoro sebagai tempat pertama dilakukan sosialisasi Millenial Job Center karena  ada minat dari perusahaan yang bergerak di bidang migas yang beroperasi disini. Mereka ingin ikut berpartisipasi menyukseskan program ini.

Menurutnya, sosialisasi ini dilakukan untuk menyamakan persepsi dan pemahaman mengenai Milenial Job center. Menurutnya, ketika berbicara milenial, sebagian besar orang membayangkanya dengan istilah muda. Kemudian ada generasi setelah perang dunia yang disebut generasi baby boomers, dimana meledaknya jumlah penduduk banyak anak. Namun kini istilahnya lebih sering disebut generasi X, Y, Z dan Alpha.

“Tapi kita sama-sama disebut sebagai milenial karena kita semua besar dalam sebuah lingkungan yang sudah terkait ke IT dan itu merubah gaya hidup kita sangat berbeda dengan sebelumnya,” jelasnya.

Terkait sektor migas di tanah air, Emil, sapaan lekat Wagub Jatim ini menjelaskan bahawa saat kita ini sudah bukan lagi negara surplus minyak. Inilah  yang menyebabkan nilai rupiah terkadang sering ditekan oleh dollar karena banyak mengimpor minyak.

“Tapi kita patut bersyukur bahwa yang bisa membantu mengurangi ketergantungan itu salah satunya Bojonegoro karena menghasilkan minyak. Tapi satu hal yang harus dibahas adalah B20, yakni persyaratan bahwa solar itu harus mengandung 20% nya biodiesel,” katanya.

Selain soal migas, menurut Emil yang tidak kalah penting adalah pengembangan agrobisnis. Alasannya manusia selamanya butuh makan. sehingga pengembangan agrobisnis ini penting sebagai tumpuan. Namun, penguasaan agrobisnis ini juga harus diikuti dengan penguasaan iptek yang baik.

Turut hadir dalam sosialisasi ini, Kepala Bakorwil Bojonegoro, Abimanyu Poncoatmojo Iswinarno, beberapa Kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim, Bupati Bojonegoro Hj. Anna Muawanah, forkopimda di wilayah Kab. Bojonegoro, perwakilan beberapa perusahaan migas di Bojonegoro, serta para siswa SMKN 5 Bojonegoro. (*)

post-top-smn

Baca berita terkait