Tuesday, 12 November 2019

Olah Kelapa, Sejahterakan Warga Jatirejoyoso

post-top-smn

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Malang, suaramedianasional.coid – Benarlah kata para bijak, kelapa dapat menjadi sumber kehidupan manusia. Ini terbukti di Desa Jatirejoyoso Kecamatatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Selama 8 bulan ini, kelapa telah mengubah hidup warga desa setempat dan menjadi lahan usaha baru bagi puluhan warganya. “Kami mengolah lagi kelapa, harganya pun bagus dan stabil,” ungkap Didit Mulyo Santoso, Kepala Desa Jatirejoyoso yang juga perintis usaha ini.

Ayah dua anak ini mengemukakan, pengolahan kelapa ini ternyata dapat membuka lahan pekerjaan bagi puluhan warga desa Jatirejoyoso. Bermula dari pemikirannya yang sederhana sebenarnya yakni kebutuhan akan santan kelapa yang selalu dibutuhkan dalam kegiatan masak-memasak. “Dari situ timbul ide untuk mengolah kelapa menjadi santan,” ungkapnya.

Kelapa sebagai bahan baku utama dia datangkan dari sekitar Malang Selatan, terutama Kecamatan Pagak, Sumawe, Donomulyo, Dampit, Ampelgading, Tirtoyudo dan lain lain. “Ketika kebutuhan sedang tinggi sementara kelapa di Malang habis ya kita mencari suplai kelapa dari daerah Jawa lainnya bahkan sampai Bali,” kata Didit, sapaan akrabnya.

Kelapa-kelapa ini dalam pengolahannya nyaris tidak meninggalkan limbah karena batok kelapa bisa diolah sebagai arang, dagingnya diambil dan dijual ke pabrik sebagai bahan pembatan santan dan kelapa yang kurang bagus diolah menjadi kopra. “Sekarang usaha ini dapat mempekerjakan 40 orang, banyak pula yang semula hanya ibu rumah tangga, sekarang bisa bepernghasilan dari usaha ini,” katanya.

Pemasaran atas hasil olahan kelapa besutan Didit dan warga Jatirejoyoso ini sudah jelas ada penampungnya. Saat ini pun omset kotornya dapat mencapai puluhan juta dengan menghabiskan 4 ton kelapa per hari. Usaha ini pun sangat menjanjikan karena pabrik penampung di Mojokerto dan Surabaya sudah siap. Selain Didit, Kades Mojosari, Eko Supriyanto, juga melakukan usaha serupa dan juga terbukti dapat mempekerjakan banyak orang. “Makanya kami optimis olahan kelapa ini bisa menjadi salah satu sumber pekerjaan baru,” ungkap Didit.

Namun demikian, Didit berharap ada perhatian dari Pemkab Malang melalui dinas terkait, lantaran kesulitannya akan alat-alat penunjang seperti pengupasa kelapa yang kebutuhannya tak cukup hanya satu atau dua unit. “Semoga ada perhatian dari pemerintah. Ini karena saya yakin usaha ini prospektif dan dapat dikerjakan oleh warga desa,” ungkapnya. (why)

 

post-top-smn

Baca berita terkait