Saturday, 16 November 2019

Oktober, Bulog Mampu Serap Beras Petani 10 Ribu Ton Per Hari

post-top-smn

bulog

Surabaya, SMN – Musim panen padi kini mulai berakhir. Namun pada bulan Oktober ini, Perum Bulog masih terus mengoptimalkan penyerapan gabah dan ebras petani. Alhasil, kini Bulog bisa menyerap beras petani hingga 10 ribu ton per hari. Penyerapan ini tergolong tinggi mengingat Oktober merupakan periode petani mulai kembali menanam.

“Pahun ini panen raya padi memang tidak berlangsung secara serentak. Panen kini masih terjadi di wilayah yang terpencar mengingat kemarau basah tahun ini memungkinkan petani di sejumlah daerah menanam hingga panen di bulan ini,” kata Direktur Pengadaan Perum Bulog, Wahyu, Senin (10/10).

Sebagai perbandingan, pada Oktober 2015, Bulog hanya mampu menyerap beras sekitar 2.000 ton per hari atau sekitar 60 ribu ton sebulan. Akibatnya, di akhir tahun 2015 lalu Bulog masih harus memenuhi stok beras dari pengadaan impor asal Thailand dan Vietnam sebesar 1,5 juta ton.

Wahyu mengaku optimistis pihaknya mampu menampung beras produksi petani dan menyerapnya untuk stok beras Bulog hingga akhir tahun. “Saat ini kami masih bisa beli beras dan gabah sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan jumlahnya cukup banyak,” ujarnya.

Ia berharap tren penyerapan ini bisa berlangsung hingga akhir tahun. Jika itu terjadi, Bulog berpeluang menggenapkan penyerapan beras sepanjang tahun ini hingga 3,2 juta ton dan menyimpan cadangan beras 2 juta ton saat pergantian tahun nanti.

Saat ini Bulog membeli gabah dan beras petani sesuai dengan HPP. Ambil contoh,  Gabah Kering Panen (GKP) dibeli Bulog seharga Rp 3.750 per kilogram (kg) dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar Rp 4.600 per kg. Sedangkan  beras ditebus Bulog di harga Rp 7.300 per kg. Sementara itu, Bulog juga melakukan pembelian beras komersial yang harganya di atas HPP untuk dijual secara komersil juga.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir mengatakan bahwa ambisi Bulog untuk menyerap 3,2 juta ton beras sepanjang tahun ini tidak ideal bagi ketahanan pangan nasional.

“Seharusnya Bulog bisa menyerap 3,8 juta ton. Angka itu berdasarkan pada rata-rata kebutuhan beras miskin (raskin) per bulan yang mencapai 250.000 ton. Jadi, dalam setahun dibutuhkan 3 juta ton. Sedangkan 800.000 ton sisanya bisa digunakan Bulog untuk operasi pasar (OP) dan cadangan nasional jika terjadi bencana,” tuturnya. (afr/kom_jtm)

post-top-smn

Baca berita terkait