Tuesday, 19 November 2019

Nopember 2016, Jatim Inflasi 0,33 Persen

post-top-smn
Ilustrasi

Ilustrasi

Surabaya, SMN – November 2016 Jawa Timur mengalami inflasi 0,33 persen. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional 0,47 persen. Inflasi di Jawa Timur maupun nasional didorong oleh naiknya bahan makanan bawang merah, cabe merah, cabe rawit dan tarif pulsa telepon.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono, di kantornya Jl Raya Kendangsari Industri, Surabaya, Kamis (1/12)  mengatakan, Nopember 2016 seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi di Kota Kediri dan Kota Sumenep yang mencapai 0,53 persen. Sedangkan terendah ada di Kota Banyuwangi yang mencapai 0,25 persen.

Dikatakan Teguh, sepanjang tahun 2006-2016, setiap November terjadi inflasi, kecuali pada November 2008 justru terjadi deflasi -0,09 persen. Sementara pada November 2014 merupakan bulan November dengan inflasi tertinggi yaitu mencapai 1,38 persen.

Pada November 2016, inflasi di Jawa Timur didorong olah naiknya hampir seluruh Indeks Harga Konsumen (IHK) kelompok pengeluaran. Kelompok bahan makanan merupakan kelompok dengan kenaikan terbesar yaitu mencapai 0,85 persen, diikuti kelompok kesehatan 0,45 persen, kelompok makanan jadi, minuman dan rokok 0,29 persen. Kemudian kelompok sandang 0,21 persen, transportasi, komunikasj dan jasa keuangan 0,16 persen, perumahan 0,15 persen dan yang terendah ialah kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga yaitu 0,08 persen.

Di antara komoditas-komoditas utama yang memicu terjadinya inflasi, ialah meningkatnya harga bawang merah, cabe merah, cabai rawit, tarif pulsa telepon dan batu bata. Kondisi musim hujan dan cuaca buruk yang akhir-akhir ini sering terjadi diduga turut mempengaruhi terganggunya produksi cabe sehingga menyebabkan pasokan dipasaran berkurang. Demikian juga dengan produksi batu bata, memasuki puncak musim penghujan ini menyebabkan proses produksi batu bata juga terganggu karena para pengrajin batu bata membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan pengeringan batu bata tersebut sehingga mengurangi pasokan batu bata di pasaran.

Selain komoditas yang memicu terjadinya inflasi di Jawa Timur beberapa komoditas juga ikut memberikan andil dalam menahan laju inflasi di bulan November 2016, diantaranya turunnya harga telur ayam ras, kentang, apel, gula pasir dan semen. Khusus komoditas semen beberapa bulan terakhir memang cenderung mengalami penurunan harga, hal ini selain disebabkan oleh stok semen di pasaran surplus, saat juga ini banyak varian merek produk semen sehingga produsen semen mulai menekan harga jual semen untuk menarik konsumen.

Untuk IHK untuk setiap kelompok makanan mulai tahun dasar 2012 (2012=100). Kelompok makanan jadi dan bahan makanan mengalami kenaikan yang tinggi, yaitu masing-masing yang mencapai 133,71 dan 131,42 di bulan November 2016 ini. Sedangkan kelompok yang tidak banyak mengalami kenaikan ialah kelompok sandang.

Secara tahun kalender, mulai Januari 2016 sampai dengan November 2016 inflasi yang terjadi di Jawa Timur sudah mencapai 2,16 persen. Capaian ini sedikit lebih rendah jika dibanding dengan November 2015 atau November 2014 yang masing masing mencapai 2,22 persen dan 5,27 persen. Kondisi ini menggambarkan bahwa perubahan atau kenaikan harga selama tahun 2016 ini jika dibadingkan dengan dua tahun sebelumnya secara umum lebih terkendali.(ryo/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait