Thursday, 17 October 2019

KPPA – Uinsa Gagas Kurikulum Responsif Gender

post-top-smn

kpppa Surabaya, SMN – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) bersama Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya menggagas kurikulum responsif gender. Perguruan Tinggi diupayakan menjadi pelopor edukasi pada masyarakat terkait kompleksitas persoalan kekerasan berbasis gender.

Deputi bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA),Heru Kasidi mengatakan,berbagai kasus kejahatan seksual  yang terungkap di sejumlah daerah di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Perempuan, anak, dan kelompok rentan lainnya masih mendominasi sebagai objek kejahatan dengan berbagai modus dan bentuk.

“Saat ini mayarakat dihadapkan pada kompleksitas masalah kekerasan berbasis gender. Untuk itu budaya akademik diharapkan dapat mengambil peran,” tutur Heru di saat Workshop Pemetaan Mata Kuliah, Potensial Integritas Gender Ke Dalam Kurikulum, Kamis (6/10) di hotel Papilio Surabaya.

Ia menilai dunia kampus termasuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam(PTKI) perlu mengembangkan kultur akademik sebagai basis penguatan perspektif, kepekaan dan keterampilan agar alumninya dapat menjadi bagian dari solusi. Terlebih alumni PTKI tidak hanya sebatas berkiprah di bidang keagamaan tapi juga berkembang di berbagai sektor lainnya. “Integrasi perspektif gender dalam mata kuliah saat ini merupakan bagian dari kebutuhan pengembangan kultur akademik yang relevan,” ungkapnya.

Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, ProfAbdulA’la menjelaskan,penerapan budaya responsif gender baik dalam pembelajaran maupun manajemen instansi pada dasarnya adalah menciptakan keberagaman. UIN Sunan Ampel Surabaya misalnya, para petingginya terus berupaya agar ada keberimbangan antara keterwakilan perempuan dan laki-laki.

“Meskipun secara pribadi, saya dalam menempatkan seseorang pada posisi tertentu tidak melihat gender tapi lebih pada kapabilititas personal,” ucap Prof  A’la yang didaulat menjadi keynote speaker bersama Prof Zaitunah Subhan, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sesuai jadwal, workshop kurikulum responsif gender akan digelar 4-8 Oktober. Kegiatan tersebut dihadiri juga dihadiri Koordinator Tim Ahli Pengarusutamaan Gender di 9 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Susanto, para dosen dari empat fakultas di UIN Sunan Ampel Surabaya, yakni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Ushuluddin dan Filsafat, Syariah dan Hukum, serta Adab dan Humaniora.

Data Komnas Perempuan, kasus kekerasan pada perempuan di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 293.220 kasus. Perempuan masih mengalami ketidakadilan akibat diskriminasi gender, seperti peminggiran atau kemiskinan (marjinalisasi), sub ordinasi, pelabelan (stereotype), kekerasan dan beban kerja. Saat ini jumlah perempuan hampir setengah dari jumlah penduduk Indonesia yaitu 49,75 persen.  (luk/kom_jtm)

post-top-smn

Baca berita terkait