Friday, 20 September 2019

Kominfo Adakan Studi Teknis, Belajar Ketangguhan Media dalam Melayani Pembaca

post-top-smn

 

 

Redaktur Pelaksana Harian Kedaulatan Rakyat, Budiharto, menyampaikan kiat membangun media agar tetap bertahan di era industri, Kamis (21/2).

Ngawi, suaramedianasional.co.id – Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Ngawi mengajak puluhan wartawan dari berbagai media, studi teknis ke Yogyakarta (21/2). Selain mengeratkan hubungan kerjasama Kominfo Ngawi dengan awak media yang bekerja di daerah tersebut, juga sebagai ajang belajar bagi semua pihak dalam menyeimbangkan peran media massa sebagai penyedia informasi sekaligus industri pers. “Jadi kami akhirnya memilih studi teknis ke redaksi Kedaulatan Rakyat (KR), ini adalah media massa yang berdiri sejak 1945,” ungkap Fuad Fahmi, Kabid Pengelolaan Komunikasi Publik Dinas Kominfo Ngawi.

Bukan hanya melihat gambaran manajerial dalam redaksi, para wartawan ini saat berkunjung ke BP KR juga berkesempatan melihat percetakan KR yang kini beroplah 85 ribu sampai dengan 120 ribu per hari tersebut. Proses cetak koran yang ada di KR juga berkembang dengan mendatangkan mesin-mesin cetak terbaru. “Kami terbantu oleh penyeragaman ukuran kertas untuk koran, kami sampai sekarang tidak membuka diri untuk mencetak di luar KR grup,” ungkap Budi, Kabag Percetakan BP KR Yogya.

Puluhan wartawan di percetakan Harian KR dalam Studi Teknis yang difasilitasi Dinas Kominfo Ngawi.

Pada kesempatan berdialog dengan redaktur pelaksana Harian KR, Budiharto, produksi KR sendiri saat ini harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. KR saat ini memiliki produk lain berupa media daring (online) dan terbitan berkala tiap hari Minggu namun beredar bersama harian KR, dan juga mengembangkan radio. “Penyesuaian harus kami lakukan karena kebutuhan pers saat ini bukan hanya dalam kecepatan menyediakan informasi, tetapi juga fokus pada kontennya,” ujar Budiharto.

Pendiri KR yakni H.M. Samawi dan Soemadi Martono telah meletakkan dasar-dasar aliran jurnalisme ala KR yakni mengedepankan budaya dan kearifan lokal di Yogya sehingga dapat bertahan sampai sekarang. “Semboyannya kan suara hati nurani, korannya rakyat dan migunani tumraping liyan,” ungkap Budiharto.

Jurus melayani pembaca ala KR ini rupanya tetap bisa membius masyarakat Yogya sehingga bertahan sampai saat ini. Budiharto menegaskan, roh dari media massa sebagai alat perjuangan, kontrol sosial sekaligus bagian dari industri harus diimbangi dengan kerja keras, tidak malas dan memahami karakter masyarakat yang disasar. “Garis api media sebagai alat kontrol sosial jangan dilanggar, hanya caranya disesuaikan. Di KR kami pakai prinsip para pendiri, tidak perlu menampar, sesuaikan dengan diri kita tetapi tetap kena pada sasaran,” ungkapnya.

KR juga memberi ruang-ruang untuk inovasi termasuk mewadahi kebutuhan informasi pada anak muda dengan menyediakan rubrik-rubrik yang sesuai. KR sendiri digawangi sekitar 125 kru redaksi dan total sekitar 500 karyawan. “Selain itu, kami juga memacu para awak redaksi untuk selalu menambah wawasan dan tidak malas ke lapangan. ” ujarnya.

Studi teknis ke KR ini akhirnya dilanjutkan dengan melakukan arung jeram di Sungai Elo, Magelang,  yang menjadikan kesan tersendiri bagi para peserta. “Kami apresiasi positif langkah Kominfo Ngawi mengadakan studi teknis ini,” ungkap Gembong Pranowo salah satu peserta yang juga pengelola sebuah majalah yang terbit di Ngawi. (ari)

post-top-smn

Baca berita terkait