Tuesday, 15 October 2019

Ini Kata Kepala Dusun Kedunglele Tentang Ibu Kasi

post-top-smn

Kepala Dusun Kedunglele, Edi Mulyanto, saat mendatangi rumah ibu Kasi.

Bojonegoro, suaramedianasional.co.id – Identitas menjadi bahasan antara Babinsa Tondomulo, Serda Andi, saat berbincang santai dengan Kepala Dusun Kedunglele, Edi Mulyanto, disela-sela aktifitas TMMD 105 Bojonegoro yang berlansung di Desa Tondomulo.

Bincang santai tersebut membahas seputar kepastian tanggal, bulan, dan tahun kelahiran ibu Kasi, salah satu warga desa tersebut yang mendapat prioritas agenda renovasi RTLH (Rumah Tidak Layak Huni).

Bicara mengenai berapa tepatnya usia ibu Kasi, Edi hanya tersenyum tanpa ada jawaban sama sekali. Tanda gelengan kepala, sudah cukup menjawab hal itu.

Terkait pencantuman kelahiran ibu Kasi pada tahun 1945 atau saat ini berusia 74 tahun, Edi menjelaskan,”Angka yang tercantum pada KTP beliau itu berdasarkan ilmu kira-kira. Sepengakuan beliau, ia lahir ketika Jepang minggat atau keluar dari republik ini.”

Tambahnya,”Dari pengakuannya itulah, kita perkirakan beliau lahir tahun 1945. Tahun itukan Jepang sudah menyerah, jadi tahun itu Jepang sudah keluar.”

Mengenai tanggal lahir, Edi menjelaskan, bahwasannya untuk tanggal maupun bulan, hal itu didasari atas pernyataan langsung dari yang bersangkutan. Pernyataan tersebut, ternyata juga berstatus tidak jelas alias masih mengambang kepastiannya.

“Beliau mengaku lahir pada selasa kliwon, lha selasa kliwon itu selalu muncul setiap 40 hari sekali. Jadi selasa kliwonnya yang tanggal mana, bulan apa juga tidak jelas,” kata Edi.

Iapun lantas mengungkapkan, untuk memastikan identitas yang belum lengkap itu, akhirnya ibu Kasi memilih tanggal, dan bulan sebelum Proklamasi dikumandangkan.

“Ini masih mending, ada warga saya yang lebih sulit lagi, orangnya sudah sepuh. Kalau ditanya lahirnya kapan, beliau menjawab sewaktu gunung meletus,” ujar Edi.

Ia menambahkan,”Di Bojonegoro ini tidak ada gunung berapi. Lalu kalau meletus, gunung yang mana, beliaunya juga bingung kalau ditanya. Kalau di Jawa Timur ini yang paling populer meletusnya, ya Gunung Kelud.”

Menurutnya, ketepatan warga yang lahir di era 50an kebawah, bisa dimaklumi sulit dipastikan, lantaran sistem administrasi kependudukan saat itu, tidak secanggih, dan tidak setertib saat ini. (trisno/dandim bojonegoro)

post-top-smn

Baca berita terkait