Sunday, 22 September 2019

Emil Dardak: Communal Branding Bantu UKM dan IKM Tembus Pasar Mancanegara

post-top-smn

Wakil Gubernur Jawa Timur Membuka Musinss Matching Indonesia – Jepang Ekspor Produk Unggulan Jatim di Bank Indonesia.

Surabaya, suaramedianasional.co.id – Guna membantu pelaku UKM dan IKM Jatim agar produknya mampu menembus pasar ekspor mancanegara, Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak mendorong pengembangan Communal Branding. Konsepnya dengan membuat satu merek atau aliansi yang bisa dimanfaatkan oleh banyak pelaku UKM dan IKM untuk memasarkan produknya.
Untuk membuat satu produk kecil yang menembus pasar luas mancanegara tidak mudah dan resikonya juga besar. Itulah mengapa kita terus dorong communal branding sehingga beberapa pelaku UKM dan IKM bisa gabung melalui satu pintu, kata Emil, sapaan lekat Wagub Jatim saat menghadiri Business Matching Indonesia-Jepang Ekspor Produk Unggulan Jawa Timur di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jatim, Jalan Pahlawan 105 Surabaya, Selasa (30/4).
Menurutnya, dalam konsep communal branding ini pemerintah hadir dengan membantu membuka pintu atau jalur. Termasuk memilih siapa pelaku IKM dan UKM yang produknya memenuhi kualitas dengan memakai merek tersebut. Tentunya harus ada standardisasi kualitas untuk meningkatkan ekspor.
Emil lantas bercerita communal branding yang telah dilakukan di Kab. Trenggalek. Disana, para perajin batik dikumpulkan melalui communal branding batik dengan merek Terang Galih. Merek ini pun telah didaftarkan dan produknya pun telah dipasarkan hingga pusat perbelanjaan Sarinah di Jakarta.
Dengan konsep communal branding ini, Emil meyakini akan mempermudah produk-produk UKM dan IKM menembus pasar ekspor mancanegara salah satunya Jepang. Menurutnya, Jepang adalah negara potensial dan pasar dollar dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik.  Itu sebabnya, masih banyak kesempatan besar untuk menjadi mitra Jepang.
Tantangannya, lanjut Emil, Jepang menerapkan kualitas atau quality qontrol sangat tinggi. Total Quality Management juga terus dilakukan. Bila ingin menembus pasar Jepang, harus mempertahankan kualitas produk. Namun bila sudah masuk, akan mudah menjadi captive atau tidak mudah dipenetrasi pesaing.
“Jangan sekali kita kasih produk kemudian mereka kurang suka terus kita berhenti, tapi harus kita harus terus coba karena memang prosesnya tidak mudah. Orang Jepang teamwork-nya sangat tinggi, sangat patuh terhadap peraturan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) sehingga tidak ada orang yang menyimpang dari aturan, terangnya.
Untuk itu Emil mengapresiasi langkah yang dilakukan Bank Indonesia yang memberikan pelatihan serta pembinaan agar pelaku IKM di Jatim bisa memiliki produk yang berkualitas dan mampu menembus pasar mancanegara. Sebagai penjaga rupiah, menurut Emil, BI memiliki tugas untuk mendorong rupiah agar kuat salah satunya dengan menghasilkan devisa , dan devisa ini dihasilkan melalui ekspor.
Dengan jajarannya yang kompeten, BI sudah sukses membina pelaku industri kopi di beberapa wilayah Jatim menjadi lebih profesional dan bisnisnya jalan. sehingga yang dilakukan BI ini punya track record, katanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jatim, Difi A. Johansyah mengatakan, pelatihan ekspor Indonesia-Jepang ini merupakan bukti komitmen kuat BI untuk membawa UMKM tidak hanya juara domestik tapi juga mancanegara. Menurutnya tugas BI adalah mengkoneksikan satu pihak dengan yang lain sehingga tercipta satu sinergi.
“Tahun lalu dengan Malaysia dan hasilnya beberapa pengusaha mampu menembus pasar Malaysia. Tahun ini kita mulai Jepang dan ke depan akan kami kembangkan ke negara lain seperti China dan India, pungkasnya. (*)

post-top-smn

Baca berita terkait