Monday, 9 December 2019

BJTI : Tahun 2016, Arus Barang Naik 3,7 Persen

post-top-smn

bjti Surabaya, SMN – Kinerja PT Berlian Jasa terminal Indonesia sepanjang tahun 2016 terbilang cukup menggembirakan. Jumlah arus barang atau produksi di anak usaha dari PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III ini tercatatkan mengalami kenaikan sebesar 3,7% jika dibanding 2015.

Humas PT BJTI, Daniar Hapsari dalam rilisnya, Senin (9/1) mengatakan, walaupun sepanjang enam bulan terakhir 2016 perusahaan. mencatatkan produksi sebesar 547.662 TEUs atau turun tipis dibanding periode yang sama tahun lalu 565.693 TEUs . Namun secara kumulatif pada tahun ini mencapai 1.098.455 TEUs atau naik 3,7% dibanding dengan jumlah produksi di tahun 2015 sebesar 1.058.840 TEUs.

“Optimisme mencapai produksi diatas 1 Juta TEUs di akhir 2016 ditopang oleh adanya penambahan alat bongkar muat seperti RTG dan HPC untuk mempercepat pelayanan, serta adanya depo baru untuk menangani Reefer Container dengan tujuan terbanyak Indonesia Timur,” ujar Daniar

Dijelaskannya, peningkatan arus produksi petikemas di pelabuhan cabang PT.BJTI seperti Pelabuhan Multiguna Tenau – Kupang sepanjang tahun 2016 menunjukan trend positif. Dari catatan perusahaan menunjukkan asanya tren kenaikan yaitu mencapai 101.167 TEUs atau setara 94.487 box, naik 12% dibanding tahun 2015 sebesar 90.167 TEUs atau 85.846 box.

Sedangkan untuk arus kunjungan kapal tahun 2016 melalui pelabuhan Tenau Kupang naik 5% dari 298 menjadi 313 unit. Selain penambahan RTG lithium battery yang diluncurkan pada Nopember lalu, saat ini Pelabuhan tenau Kupang memiliki dermaga dengan panjang 237 meter dengan luas CY 2,6 hektar, serta alat bongkar muat berupa 4 unit RTG, 2 unit RS, 2 unit CC, 1 unit Forklift dan 6 unit Head Truck.

Selain itu, BJTI pada Tahun 2017-2018 berencana menginvestasikan Rp 800 miliar untuk membeli peralatan bongkar muat peti kemas. Alasannya, pelabuhan peti kemas yang dikelola oleh BJTI terus mengalami pertumbuhan produksi, terutama pelayanan bongkar muat dari Surabaya menuju kawasan Timur Indonesia sehingga ke depan BJTI sangat membutuhkan penambahan peralatan.

“Kinerja produksi peti kemas di BJTI pada Oktober 2016 sudah mencapai sekitar 900.000  TEUs atau naik hampir 3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini terjadi karena hampir semua jurusan menuju Indonesia Timur, kecuali Kalimantan akibat kondisi sumber daya alamnya tidak bagus,” ujar Direktur Utama BJTI, Putut Sri Muljanto.

Selain itu, katanya, untuk tujuan pelayaran ke Sulawesi, Nusa Tenggara, Ambon dan Papua mengalami pertumbuhan. Namun begitu, pertumbuhan yang tinggi harus diimbangi oleh kinerja pelayanan di pelabuhan. Rencanannya BJTI akan membeli peralatan bongkar muat seperti Harbour Mobile Crane (HMC) dan electric Rubber Tyred Gantry (e-RTG).

Putut menjelaskan, pada Tahun 2017 mendatang, pihak BJTI akan menganggarkan sebesar Rp 500 miliar, dan pada 2018 juga menganggarkan pula sebesar Rp 300 miliar untuk pengadaan peralatan tersebut.

“Harapannya pada 2018 mendatang, kami sudah punya alat-alat baru karena pelabuhan kita ini kecil, dan kalau terminalnya enggak punya alat bagus kinerja pelabuhan akan terbatas dan kalah bersaing,” katanya. (ris/kom)

post-top-smn

Baca berita terkait