Sunday, 22 September 2019

Awal Oktober, Harga Beras Cukup Stabil

post-top-smn

penjual-beras Jatim, SMN – Awal Oktober 2016, harga bahan pokok beras di berbagai pasar rakyat di Jawa Timur khususnya di pasar beras Bendul Merisi Surabaya cukup stabil. Harga beras kelas medium IR 64 rata-rata Rp 9.000kg, beras premium bengawan Rp 10.000/kg, beras mentik Rp 10.500/kg,

Ketua Paguyupan Pedagang Beras Pasar Beras Bendul Merisi Surabaya, Sudarno saat dikonfirmasi Rabu (5/10) mengatakan, memasuki pasca panen harga beras cukup stabil cenderung  stabil meskipun panen di berbagai daerah sentra beras di Jawa Timur mulai berkurang tetapi stok berlebih.

Kata Sudarno, harga beras diprediksi akan tetap stabil meskipun beberapa daerah memasuki musim pancaroba, seperti Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto serta daerah Timur Jawa Timur. Jika daerah-daerah tersebut sebagaian besar memanen semua padinya maka harga beras akan dipastikan turun.

Dengan harga beras dibilang cukup stabil akan berpengaruhi daya beli masyarakat/konsumen lebih terjangkau. Setiap hari pasar beras Bendul Merisi Surabaya pada jam-jam tertentu cukup ramai dikunjungi masyarakat baik para pedagang beras maupun masyarakat yang membeli beras berkualitas untuk dikonsumsi sendiri. Pedagang beras di Pasar Beras Bendul Merisi rata-rata setiap pedagang bisa menjual 2,5-3  ton lebih/harinya

Kata Sudarno beras yang dijual bersama pedagang beras di pasar Beras Bendul merupakan beras lokal yang berkualitas didatangkan langsung dari petani dan penggilingan beras dari sentra-sentra penghasil beras di Jawa Timur seperti Jember, Banyuwangi, Lamongan, Jombang dan Situbondo sekitarnya. Karena langsung membeli dari petani maka harga beras di pasar Beras Mendul Merisi Surabaya harga lebih murah dibandingkan dengan pasar-pasar rakyat dan pasar modern.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono mengatakan, data dari BPS Jawa Timur Angka Tetap (ATAP) 2015 produksi Padi Provinsi Jawa Timur sekitar 13,15 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dibandingkan dengan produksi padi tahun 2014 (ATAP), terjadi kenaikan produksi sebanyak 757,92 ribu ton atau 6,11 persen).

Jawa Timur masih menjadi salah satu lumbung pangan nasional. Kenaikan produksi padi ini disebabkan adanya kenaikan luas panen 79,44 ribu hektare atau 3,83 persen dan tingkat produktivitas 1,32 kuintal per hektare.

Realisasi produksi padi Jawa Timur subround I Januari-April 2015 sebesar 6,37 juta ton GKG. Bila dibandingkan dengan Sub Rond (SR) I 2014 sebesar (6,26 juta ton GKG) terjadi kenaikan 110,94 ribu ton GKG atau naik 1,77 persen. Kenaikan produksi pada SR I 2015 terhadap SR I 2014 tersebut karena adanya kenaikan produktivitas 2,61 kuintal/hektare 4,35 persen dari 59,96 kuintal/hektare menjadi 62,57 kuintal/hektare, sedangkan luas panen mengalami penurunan 25,76 ribu hektare sebesar -2,47 persen dari 1,04 juta hektare menjadi 1,02 juta hektare.

Realisasi produksi padi Jawa Timur subround II atara Mei-Agustus 2015 sebesar 4,58 juta ton GKG. Bila dibandingkan dengan SR II 2014 sebesar 4,12 juta ton GKG terjadi kenaikan 460,44 ribu ton GKG atau naik 11,17 persen.

Realisasi produksi padi Jawa Timur subround III mulai September-Desember 2015 sebesar 2,20 juta ton GKG. Bila dibandingkan dengan SR III 2014 sebesar 2,01 juta ton GKG terjadi kenaikan 186,54 ribu ton GKG atau naik 9,27 persen. Data tersebut menunjukan Jawa Timur masih menjadi salah satu lumbung beras nasional. (ryo/kom_jtm)

post-top-smn

Baca berita terkait